Hadapi Kekeringan, Pemkab Indramayu Perkuat Irigasi dan Salurkan Pompa Air untuk Petani

INDRAMAYU.radarinformasi.com – Pemerintah Kabupaten Indramayu terus memperkuat langkah mitigasi dampak kekeringan terhadap sektor pertanian. Salah satunya melalui pembangunan Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) dan penyaluran bantuan mesin pompa air kepada petani.

Upaya tersebut ditandai dengan Serah Terima Aset Operasional JIAT Inpres Nomor 02 Tahun 2025 sekaligus penyaluran bantuan mesin pompa air yang berlangsung di Balai Benih Tanaman Pangan Kecamatan Cikedung, Selasa (18/8/2026).

Kegiatan tersebut dihadiri Tenaga Ahli Menteri Pertanian Republik Indonesia Hermansyah, perwakilan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Indramayu, gabungan kelompok tani, serta sejumlah undangan lainnya.

Bupati Indramayu Lucky Hakim mengatakan, pemerintah daerah terus melakukan berbagai langkah untuk mengurangi dampak kekeringan terhadap lahan pertanian. Upaya tersebut dilakukan melalui bantuan pompa air, pembangunan JIAT, hingga pengembangan program Listrik Masuk Sawah.

Menurut Lucky, keberadaan sarana pengairan sangat penting untuk membantu petani mempertahankan aktivitas bercocok tanam di tengah kondisi musim kemarau.

Ia juga meminta camat dan pemerintah desa turut mengawal pemanfaatan bantuan agar dapat digunakan secara optimal dan memberikan manfaat bagi para petani.

Selain itu, petani didorong untuk tetap produktif dengan menyesuaikan komoditas yang ditanam dengan kondisi musim. Sejumlah tanaman seperti jagung, semangka, melon, dan palawija dinilai dapat menjadi alternatif selama musim kering.

“Selagi para petani masih semangat menanam, kami akan optimistis,” kata Lucky.

Bupati menegaskan, pemerintah akan terus memberikan motivasi kepada masyarakat bahwa sektor pertanian memiliki prospek untuk meningkatkan kesejahteraan.

“Upaya ini sekaligus menjadi bagian dari komitmen mempertahankan Indramayu sebagai lumbung pangan nasional serta meningkatkan kesejahteraan petani,” tuturnya.

63 Titik JIAT Disetujui

Sementara itu, Kepala DKPP Kabupaten Indramayu Sugeng Heriyanto menjelaskan, pembangunan JIAT terus didorong untuk memperkuat ketersediaan air bagi lahan pertanian yang rentan terdampak kekeringan.

Dari usulan pembangunan JIAT yang disampaikan kepada Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum, sebanyak 63 titik telah disetujui untuk dibangun, sementara 47 titik tambahan masih dalam proses.

Pembangunan tersebut akan diprioritaskan di kawasan persawahan tadah hujan yang memiliki tingkat kerentanan tinggi terhadap kekeringan, di antaranya wilayah Gantar, Kroya, Terisi, sebagian Cikedung, dan sebagian Gabuswetan.

“Ini adalah upaya kami dalam memitigasi kekeringan yang ada di Kabupaten Indramayu. Tidak akan bisa berjalan tanpa dukungan semua pihak, terutama teman-teman petani. Saling bersinergi itu yang paling penting,” ujar Sugeng.

Pemerintah Dorong Penguatan Infrastruktur Pengairan

Tenaga Ahli Menteri Pertanian Republik Indonesia, Hermansyah, turut memberikan dukungan terhadap langkah pemerintah dalam memperkuat infrastruktur pertanian.

Menurutnya, ketersediaan air merupakan salah satu faktor penting dalam menjaga produktivitas pertanian, khususnya ketika petani menghadapi musim kering.

Pemerintah, kata Hermansyah, terus mendorong pembangunan infrastruktur pengairan, termasuk JIAT dan program Listrik Masuk Sawah. Ketersediaan akses listrik di area pertanian diharapkan dapat memudahkan petani mengoperasikan pompa air dengan sumber energi yang lebih mudah dan terjangkau.

Petani Sambut Positif Bantuan

Bantuan yang diberikan pemerintah mendapat sambutan positif dari kalangan petani. Tawang, petani asal Desa Krasak, mengaku bersyukur dan merasa terbantu dengan dukungan pemerintah.

“Kami bersyukur dan merasa sangat terbantu dengan adanya alsintan dari pemerintah pusat maupun daerah. Ketersediaan air menjadi kebutuhan utama petani agar kegiatan tanam dapat terus berlangsung dan risiko gagal panen dapat ditekan,” ujarnya.

Melalui pembangunan JIAT, bantuan pompa air, serta pengembangan Listrik Masuk Sawah, Pemerintah Kabupaten Indramayu berharap ketahanan sektor pertanian tetap terjaga meski menghadapi ancaman kekeringan.

Langkah tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya mempertahankan produktivitas pertanian dan posisi Kabupaten Indramayu sebagai salah satu daerah penyangga pangan nasional.

Sumber Diskominfo Indramayu

Andika

Ngaku Cari Batu dari Sekitar Irigasi dan Kebun, Proyek P3-TGAI di Desa Cilember Tuai Sorotan

BOGOR.radarinformasi.com – Pelaksanaan Program Percepatan Peningkatan Tata Guna Air Irigasi (P3-TGAI) Tahun Anggaran 2026 di Daerah Irigasi (D.I.) Leuwi Gede, Desa Cilember, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor, menuai sorotan. Proyek yang dilaksanakan oleh P3A Mitra Cai Lestari dengan anggaran Rp195 juta yang bersumber dari APBN itu diduga menggunakan batu kali yang diambil dari sekitar irigasi dan kawasan kebun.

Dugaan tersebut mencuat setelah Komek, selaku mandor sekaligus pelaksana lapangan proyek P3-TGAI, mengakui bahwa batu yang digunakan dalam pekerjaan tidak dibeli dari pemasok material, melainkan dicari dari sekitar lokasi proyek.

“Dari kali sementara nggak boleh, kita nyari yang di kebun. Ditampol sama tukang batunya, baru kita bayar. Daripada beli dari material juga bayar. Gitu teteh infonya,” ujar Komek via pesan WhatsApp, Selasa (28/7/2026).

Pengakuan tersebut memunculkan pertanyaan mengenai legalitas sumber material yang digunakan dalam proyek yang dibiayai menggunakan dana APBN. Jika batu memang diambil dari sekitar irigasi maupun kawasan kebun, muncul pertanyaan apakah material tersebut berasal dari lahan milik sendiri, milik warga yang telah memberikan izin, atau justru diambil dari lokasi tanpa dasar perizinan yang jelas.

Selain itu, kualitas batu yang diambil dari sekitar kebun juga patut dipertanyakan. Batu yang berada di permukaan tanah umumnya telah mengalami proses pelapukan akibat cuaca serta memiliki kandungan tanah dan pori yang lebih tinggi dibandingkan batu yang berasal dari kuari (quarry). Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi kekuatan pasangan batu pada bangunan irigasi apabila tidak memenuhi spesifikasi teknis pekerjaan.

Tak hanya dari sisi teknis, penggunaan material tersebut juga berpotensi menimbulkan persoalan administrasi. Dalam pelaksanaan Program P3-TGAI, setiap pengadaan material pada prinsipnya harus dapat dipertanggungjawabkan dalam Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) melalui dokumen transaksi, seperti nota pembelian atau kuitansi sesuai nilai pengadaannya.

Apabila batu memang dibeli dari masyarakat atau pemasok material, seharusnya terdapat bukti transaksi yang sah. Sebaliknya, apabila batu diperoleh dengan mengambil langsung dari sekitar lokasi tanpa adanya transaksi jual beli, maka material tersebut tidak dapat dicatat sebagai pembelian. Persoalan menjadi lebih serius apabila dalam LPJ nantinya dicantumkan adanya pengeluaran untuk pembelian batu, sementara fakta di lapangan menunjukkan material diperoleh tanpa transaksi. Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan ketidaksesuaian antara kondisi riil di lapangan dengan dokumen pertanggungjawaban penggunaan dana APBN dan dapat menjadi temuan dalam pemeriksaan maupun audit.

Dari sisi hukum, apabila batu diambil dari kebun milik orang lain tanpa persetujuan pemilik, tindakan tersebut berpotensi menimbulkan sengketa hukum. Sementara apabila pengambilan dilakukan dalam skala yang menyerupai kegiatan penambangan, terlebih berasal dari sungai, sempadan sungai, atau lahan negara tanpa izin, maka kegiatan tersebut berpotensi bersinggungan dengan ketentuan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2020 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara, serta peraturan mengenai pengelolaan sumber daya air dan lingkungan hidup.

Dengan demikian, persoalan yang patut menjadi perhatian bukan semata-mata mengenai kualitas batu yang digunakan, melainkan juga legalitas sumber material dan kesesuaian pertanggungjawaban penggunaan dana APBN. Sebagai program yang dibiayai uang negara, seluruh material yang digunakan dalam P3-TGAI seharusnya memiliki asal-usul yang jelas, diperoleh sesuai ketentuan, serta didukung dokumen yang dapat dipertanggungjawabkan apabila sewaktu-waktu dilakukan pemeriksaan.

Berdasarkan papan informasi proyek, kegiatan tersebut merupakan Program P3-TGAI Tahun Anggaran 2026 di D.I. Leuwi Gede, Desa Cilember, Kecamatan Cisarua, dengan nilai bantuan Rp195.000.000 yang mulai dilaksanakan pada 17 Juni 2026 oleh P3A Mitra Cai Lestari.

Hingga berita ini diterbitkan, Ketua P3A Mitra Cai Lestari maupun pihak Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Ciliwung Cisadane belum memberikan keterangan resmi terkait pengakuan Komek tersebut. Media masih berupaya melakukan konfirmasi guna memastikan legalitas asal material yang digunakan, mekanisme pengadaannya, serta kesesuaiannya dengan ketentuan pelaksanaan Program P3-TGAI dan pertanggungjawaban penggunaan dana APBN.

Red

P3-TGAI D.I. Cinagara Disorot, Pondasi Terendam Air

BOGOR.radarinformasi.com – Pelaksanaan Program Percepatan Peningkatan Tata Guna Air Irigasi (P3-TGAI) Tahun Anggaran 2026 di Daerah Irigasi (D.I.) Cinagara, Desa Cinagara, Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor, menuai sorotan. Proyek yang dibiayai melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) senilai Rp195 juta itu didapati memasang pondasi pada galian yang masih dipenuhi genangan air.

Berdasarkan papan informasi kegiatan, proyek tersebut merupakan program Kementerian Pekerjaan Umum melalui Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Ciliwung Cisadane yang dilaksanakan oleh P3A Bumi Tani Cinagara Asri dengan nilai bantuan Rp195.000.000 berdasarkan Perjanjian Kerja Sama Nomor HK.02.01/PKS/Bbws4.9.4/VI/2026/417.3.

Hasil pantauan awak media di lokasi menunjukkan dasar galian pondasi masih dipenuhi air berlumpur. Meski demikian, batu-batu pondasi telah terlihat dipasang di dalam genangan tersebut. Hingga saat pemantauan dilakukan, tidak tampak adanya upaya pengeringan lokasi pekerjaan.

Dalam pekerjaan konstruksi saluran irigasi, area pemasangan pondasi pada umumnya diupayakan berada dalam kondisi kering agar dasar galian dapat diperiksa, dibersihkan dari lumpur, serta memastikan pondasi bertumpu pada tanah yang memiliki daya dukung memadai. Pada kondisi saluran yang masih dialiri air, lazim diterapkan kisdam (cofferdam) atau metode pengalihan aliran sementara agar lokasi pemasangan pondasi terbebas dari genangan selama proses pekerjaan berlangsung.

Namun, pada pekerjaan di D.I. Cinagara, awak media tidak menemukan adanya kisdam maupun metode pengendalian air lainnya pada titik pemasangan pondasi. Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan mengenai metode pelaksanaan yang diterapkan oleh pelaksana pekerjaan.

Selain persoalan teknis, sejumlah warga juga mengaku tidak mengetahui secara pasti lokasi pelaksanaan kegiatan tersebut. Salah seorang warga yang rumahnya berada di sekitar lokasi mengatakan bahwa masyarakat di wilayah proyek tersebut tidak dilibatkan selama proses pekerjaan berlangsung.

“Enggak tahu, Pak. Kalau dari rencananya di RT saya, pas pelaksanaannya ternyata berbeda,” ujarnya.

Warga tersebut juga mengaku tidak melihat adanya pelibatan masyarakat sekitar dalam proses pengerjaan, padahal program P3-TGAI pada prinsipnya mengedepankan pola swakelola dan pemberdayaan masyarakat.

Apabila pemasangan pondasi dilakukan tanpa dasar galian yang memadai dan tanpa pengendalian air, kondisi tersebut berpotensi memengaruhi kualitas konstruksi. Oleh karena itu, diperlukan penjelasan dari pihak pelaksana maupun pendamping teknis mengenai metode pekerjaan yang digunakan di lapangan, termasuk terkait mekanisme pelibatan masyarakat dalam pelaksanaan kegiatan.

Saat dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp, Jaka selaku mandor pelaksana telah dimintai penjelasan terkait pemasangan pondasi di tengah genangan air, tidak terlihatnya kisdam di lokasi pekerjaan, serta adanya keluhan warga mengenai minimnya informasi dan pelibatan masyarakat. Namun hingga berita ini diterbitkan, yang bersangkutan belum memberikan tanggapan.

Redaksi membuka ruang hak jawab kepada P3A Bumi Tani Cinagara Asri, pendamping teknis, maupun BBWS Ciliwung Cisadane untuk memberikan klarifikasi. Apabila terdapat penjelasan resmi dari pihak terkait, berita ini akan diperbarui sesuai prinsip keberimbangan dan akurasi pemberitaan.

P3A Tunas Mekar 1 Laksanakan Pembangunan Irigasi P3-TGAI di D.I. Batu Kembar

BOGOR.radarinformasi.com – Program Percepatan Peningkatan Tata Guna Air Irigasi (P3-TGAI) Tahun Anggaran 2026 kembali dilaksanakan di Kabupaten Bogor. Kali ini, pembangunan saluran irigasi dilaksanakan di Daerah Irigasi (D.I.) Batu Kembar, Desa Ciderum, Kecamatan Caringin.

Program tersebut merupakan bagian dari upaya Direktorat Jenderal Sumber Daya Air melalui Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Ciliwung Cisadane dalam meningkatkan kualitas jaringan irigasi guna mendukung produktivitas pertanian serta memperkuat peran Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A).

Berdasarkan informasi pada papan kegiatan, pembangunan bersumber dari APBN Tahun Anggaran 2026 dengan nilai kontrak sebesar Rp195.000.000. Pekerjaan dimulai pada 17 Juni 2026 berdasarkan Nomor PKS HK.02.01/PKS/Bbws4.9.4/VI/2026/417.1, dengan pelaksana P3A Tunas Mekar 1.

Ketua P3A Tunas Mekar 1, Asep Saepuloh, mengatakan program P3-TGAI menjadi angin segar bagi para petani di Desa Ciderum karena keberadaan jaringan irigasi yang baik sangat berpengaruh terhadap kelancaran pengairan lahan pertanian.

“Alhamdulillah kami mengucapkan terima kasih kepada pemerintah yang telah mempercayakan pelaksanaan Program P3-TGAI kepada P3A Tunas Mekar 1. Kami berharap pembangunan ini dapat memperlancar aliran air sehingga para petani lebih mudah memenuhi kebutuhan irigasi sawah,” ujar Asep.

Ia menjelaskan, pembangunan dilaksanakan secara swakelola dengan melibatkan masyarakat setempat melalui sistem padat karya. Selain memperbaiki infrastruktur irigasi, program tersebut juga memberikan manfaat ekonomi bagi warga yang ikut terlibat dalam proses pengerjaan.

Menurut Asep, kualitas pekerjaan menjadi prioritas agar manfaat pembangunan dapat dirasakan dalam jangka panjang.

“Kami berkomitmen melaksanakan pekerjaan sesuai spesifikasi teknis yang telah ditetapkan. Harapan kami, saluran irigasi ini dapat dimanfaatkan dalam waktu lama dan mampu meningkatkan produktivitas pertanian serta kesejahteraan para petani di Desa Ciderum,” tuturnya.

Program P3-TGAI merupakan salah satu program pemerintah yang bertujuan meningkatkan kualitas jaringan irigasi melalui pemberdayaan masyarakat. Dengan dukungan infrastruktur irigasi yang memadai, diharapkan distribusi air ke lahan pertanian menjadi lebih optimal sehingga dapat mendukung ketahanan pangan dan meningkatkan hasil panen petani.

Program P3-TGAI di D.I. Ciletuh Perkuat Infrastruktur Irigasi Pertanian Desa Ciderum

BOGOR.radarinformasi.com – Program Percepatan Peningkatan Tata Guna Air Irigasi (P3-TGAI) Tahun Anggaran 2026 kembali dilaksanakan di Kabupaten Bogor. Kali ini, pembangunan saluran irigasi dilaksanakan di Daerah Irigasi (D.I.) Ciletuh, Desa Ciderum, Kecamatan Caringin.

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari program Direktorat Jenderal Sumber Daya Air, Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Ciliwung Cisadane yang bertujuan meningkatkan kualitas jaringan irigasi melalui pemberdayaan Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A).

Berdasarkan informasi pada papan kegiatan, pembangunan bersumber dari APBN Tahun 2026 dengan nilai kontrak sebesar Rp195.000.000. Pekerjaan dimulai pada 17 Juni 2026 dengan Nomor PKS HK.02.01/PKS/Bbws4.9.4/VI/2026/417, dan dilaksanakan oleh P3A Tani Mandiri.

Ketua P3A Tani Mandiri, Beni Herdiansyah, mengatakan program tersebut menjadi langkah penting dalam meningkatkan kualitas infrastruktur irigasi yang selama ini menjadi penopang aktivitas pertanian masyarakat di Desa Ciderum.

“Program P3-TGAI ini sangat membantu para petani. Dengan adanya perbaikan saluran irigasi, kami berharap distribusi air menjadi lebih lancar sehingga lahan pertanian dapat terairi secara optimal,” ujar Beni.

Menurutnya, pelaksanaan pembangunan dilakukan secara swakelola dengan melibatkan masyarakat sekitar melalui pola padat karya. Selain menghasilkan infrastruktur yang bermanfaat bagi petani, program tersebut juga memberikan kesempatan kerja bagi warga setempat selama proses pembangunan berlangsung.

Beni berharap pembangunan dapat selesai sesuai jadwal dengan kualitas yang baik agar manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang.

“Kami ingin hasil pekerjaan ini benar-benar memberikan dampak positif bagi petani. Ketika jaringan irigasi berfungsi dengan baik, produktivitas pertanian akan meningkat dan hasil panen diharapkan menjadi lebih maksimal,” tuturnya.

Melalui Program P3-TGAI, pemerintah terus mendorong peningkatan kualitas jaringan irigasi berbasis partisipasi masyarakat. Dengan dukungan infrastruktur yang memadai, diharapkan produktivitas pertanian di Desa Ciderum semakin meningkat serta mampu mendukung ketahanan pangan di Kabupaten Bogor.

Red

P3-TGAI Tahun 2026 Hadir di Desa Pancawati, Dukung Produktivitas Pertanian

BOGOR.radarinformasi.com – Program Percepatan Peningkatan Tata Guna Air Irigasi (P3-TGAI) Tahun Anggaran 2026 kembali hadir untuk mendukung peningkatan sektor pertanian di Kabupaten Bogor. Kali ini, pembangunan saluran irigasi dilaksanakan di Daerah Irigasi (D.I.) Citengah, Desa Pancawati, Kecamatan Caringin.


Program yang berada di bawah Direktorat Jenderal Sumber Daya Air, Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Ciliwung Cisadane tersebut bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Tahun 2026 dengan nilai kontrak sebesar Rp195.000.000.

Sesuai informasi pada papan kegiatan, pekerjaan dimulai pada 17 Juni 2026 dengan Nomor PKS HK.02.01/PKS/Bbws4.9.4/VI/2026/417.6. Pelaksanaan kegiatan dipercayakan kepada P3A Mitra Cai Legok Pancawati.

Ketua P3A Mitra Cai Legok Pancawati, Rusdi, mengatakan program P3-TGAI menjadi salah satu bentuk perhatian pemerintah terhadap kebutuhan para petani, khususnya dalam penyediaan jaringan irigasi yang lebih baik.

“Program ini sangat bermanfaat bagi kami. Dengan saluran irigasi yang lebih baik, distribusi air ke lahan pertanian akan semakin lancar sehingga para petani bisa lebih optimal dalam mengelola sawahnya,” ujar Rusdi.

Menurutnya, pembangunan dilaksanakan secara swakelola dengan melibatkan masyarakat setempat melalui pola padat karya. Selain memperbaiki infrastruktur irigasi, program tersebut juga memberikan kesempatan kerja bagi warga selama proses pembangunan berlangsung.

Rusdi berharap seluruh pekerjaan dapat diselesaikan tepat waktu dan menghasilkan bangunan yang berkualitas agar manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang.

“Kami berharap saluran irigasi ini mampu mendukung produktivitas pertanian di Desa Pancawati. Jika pasokan air lancar, tentu hasil panen petani juga diharapkan menjadi lebih baik dan kesejahteraan masyarakat dapat meningkat,” tuturnya.

Program P3-TGAI merupakan salah satu upaya pemerintah dalam meningkatkan kualitas jaringan irigasi melalui pemberdayaan Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A). Dengan dukungan infrastruktur irigasi yang memadai, sektor pertanian diharapkan semakin produktif serta mampu memperkuat ketahanan pangan di daerah.

Damkar Indramayu Bantu Petani Bersihkan Saluran Irigasi Tersumbat di Lobener Lor

INDRAMAYU.radarinformasi.com – Bidang Pemadam Kebakaran (Damkar) Satpol PP dan Damkar Kabupaten Indramayu menunjukkan peran aktif dalam memberikan pelayanan nonkebakaran kepada masyarakat. Kali ini, petugas membantu membersihkan saluran irigasi yang tersumbat di Desa Lobener Lor, Kecamatan Jatibarang.

Penyumbatan saluran irigasi tersebut sebelumnya menghambat aliran air menuju areal persawahan warga. Kondisi ini berpotensi mengganggu kebutuhan air bagi lahan pertanian dan aktivitas petani.

Dengan memanfaatkan tekanan air dari armada pemadam kebakaran, petugas Damkar berhasil membersihkan material yang menyumbat saluran. Setelah dilakukan penanganan, aliran air menuju lahan pertanian kembali berjalan lancar.

Kepala Bidang Damkar Kabupaten Indramayu, Jajat Wibisono, mengatakan, penanganan tersebut merupakan salah satu bentuk pelayanan nonkebakaran yang diberikan Damkar kepada masyarakat.

“Salah satu bentuk pelayanan tersebut adalah membantu para petani mengatasi saluran irigasi atau selokan yang tersumbat di Desa Lobener Lor,” ujar Jajat, Minggu (19/7/2026).

Menurutnya, kembali lancarnya aliran irigasi diharapkan dapat memenuhi kebutuhan air bagi lahan persawahan sehingga aktivitas pertanian masyarakat dapat berjalan secara optimal.

Jajat menegaskan, Damkar tidak hanya berperan dalam penanganan kebakaran, tetapi juga memberikan berbagai pelayanan penyelamatan dan penanganan nonkebakaran yang dibutuhkan masyarakat.

“Damkar akan terus berupaya memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat melalui berbagai penanganan yang berdampak langsung terhadap kebutuhan warga,” katanya.

Ia juga mengajak masyarakat untuk bersama-sama menjaga kebersihan lingkungan, khususnya saluran air, dengan tidak membuang sampah ke selokan maupun saluran irigasi.

Selain itu, masyarakat diimbau segera melaporkan apabila menemukan hambatan pada saluran air yang berpotensi mengganggu kepentingan masyarakat.

“Damkar Indramayu akan terus hadir memberikan pelayanan yang cepat, tanggap, dan humanis bagi masyarakat,” tegasnya.

Aksi cepat tersebut mendapat apresiasi dari warga dan kelompok tani Desa Lobener Lor. Mereka berharap sinergi antara pemerintah dan masyarakat dapat terus terjalin dalam mendukung pelayanan publik serta berbagai program pembangunan demi kemajuan Kabupaten Indramayu.

Sumber Diskominfo Indramayu

Andika

Rangkap Jabatan Ketua P3A Banjarwangi Disorot, KMB BBWS Siap Laporkan ke Balai

BOGOR.radarinformasi.com – Polemik Program Percepatan Peningkatan Tata Guna Air Irigasi (P3-TGAI) di Desa Banjarwangi, Kecamatan Ciawi, Kabupaten Bogor, terus bergulir. Setelah sebelumnya mencuat dugaan rangkap jabatan Ketua P3A Desa Banjarwangi, Ade Salman, yang juga diketahui bertugas sebagai Pendamping Lokal Desa (PLD), kini persoalan lain ikut menjadi sorotan, yakni administrasi kelembagaan P3A di tingkat pemerintah desa.

Terkait persoalan tersebut, awak media menghubungi Syaifuddin Junaidi selaku Konsultan Manajemen Balai (KMB) untuk meminta tanggapan. Setelah menerima informasi mengenai dugaan rangkap jabatan tersebut, Syaifuddin menyatakan akan menyampaikan persoalan itu kepada pihak Balai.

“Terima kasih. Akan saya laporkan ke Balai,” tulis Syaifuddin Junaidi melalui pesan WhatsApp.

Pernyataan tersebut sekaligus menegaskan bahwa informasi mengenai dugaan rangkap jabatan Ketua P3A Desa Banjarwangi akan diteruskan kepada pihak Balai sebagai bahan tindak lanjut. Sementara itu, penilaian mengenai ada atau tidaknya pelanggaran terhadap ketentuan Tenaga Pendamping Profesional merupakan kewenangan instansi terkait sesuai peraturan yang berlaku.

Selain itu, dalam praktik tata kelola organisasi, pengurus P3A juga berkewajiban menyampaikan laporan kegiatan dan perkembangan pengelolaan irigasi kepada pemerintah desa sebagai mitra di tingkat lokal. Koordinasi menjadi semakin penting ketika terjadi pergantian kepala desa agar seluruh program yang bersumber dari anggaran pemerintah dapat berjalan secara transparan, akuntabel, dan diketahui oleh pemerintah setempat.

Sorotan tersebut muncul setelah Kepala Desa Banjarwangi mengaku belum pernah menerima koordinasi maupun melihat dokumen kepengurusan P3A sejak dirinya menjabat. Padahal, keberadaan dokumen kepengurusan dinilai penting untuk memastikan legalitas organisasi yang menjadi pelaksana Program P3-TGAI serta mempermudah koordinasi antara pemerintah desa dengan pengurus P3A.

Secara hukum, Ketua P3A memang tidak memiliki kewajiban menyerahkan Surat Keputusan (SK) asli kepengurusan kepada Kepala Desa yang baru, karena SK tersebut merupakan dokumen resmi milik organisasi dan menjadi dasar legalitas kepengurusan sesuai masa bakti yang tercantum di dalamnya. Pergantian kepala desa juga tidak otomatis membatalkan keabsahan kepengurusan P3A yang telah ditetapkan.

Meski demikian, dari sisi tertib administrasi dan tata kelola kelembagaan, Ketua P3A memiliki tanggung jawab untuk membangun koordinasi dengan pemerintah desa, termasuk memperlihatkan atau menyerahkan salinan (fotokopi) SK kepengurusan sebagai bentuk pemberitahuan administrasi. Langkah tersebut penting agar data kelembagaan desa tetap mutakhir, mempermudah koordinasi pelaksanaan program pemerintah, termasuk P3-TGAI, serta menghindari kesalahpahaman antara pengurus P3A dengan pemerintah desa.

Pengakuan Kepala Desa Banjarwangi yang menyebut belum pernah menerima koordinasi terkait proyek maupun kepengurusan P3A pun menimbulkan pertanyaan mengenai sejauh mana hubungan administratif antara organisasi penerima bantuan tersebut dengan pemerintah desa. Kondisi itu dinilai perlu mendapat perhatian agar tidak menimbulkan persoalan tata kelola di kemudian hari.

Hingga berita ini diterbitkan, Ketua P3A Desa Banjarwangi, Ade Salman, belum memberikan penjelasan terkait administrasi kepengurusan P3A maupun koordinasi dengan Pemerintah Desa Banjarwangi. Redaksi tetap membuka ruang hak jawab dan klarifikasi kepada seluruh pihak sesuai amanat Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.

Pembangunan Irigasi P3-TGAI di Desa Pancawati Disambut Antusias Petani dan Masyarakat

BOGOR.radarinformasi.com – Program Percepatan Peningkatan Tata Guna Air Irigasi (P3-TGAI) Tahun Anggaran 2026 kembali dilaksanakan di Kabupaten Bogor. Kali ini, pembangunan saluran irigasi dilakukan di Daerah Irigasi (D.I.) Cilonjong, Desa Pancawati, Kecamatan Caringin.

Program yang berada di bawah Direktorat Jenderal Sumber Daya Air, Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Ciliwung Cisadane tersebut didanai melalui APBN Tahun Anggaran 2026 dengan nilai kontrak sebesar Rp195.000.000. Pelaksanaan kegiatan dipercayakan kepada P3A Mitra Cai Sugih Mukti 3 dengan Ketua Kelompok Tani Iyus.

Ketua Kelompok Tani, Iyus, mengatakan program P3-TGAI merupakan bentuk perhatian pemerintah dalam mendukung sektor pertanian melalui peningkatan kualitas jaringan irigasi. Menurutnya, keberadaan saluran irigasi yang baik akan memperlancar distribusi air ke lahan pertanian sehingga mampu meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan petani.

“Alhamdulillah Desa Pancawati kembali mendapatkan program P3-TGAI. Kami mengucapkan terima kasih kepada pemerintah, khususnya Kementerian Pekerjaan Umum melalui BBWS Ciliwung Cisadane yang telah memperhatikan kebutuhan petani. Kami berharap pembangunan ini berjalan lancar dan hasilnya benar-benar dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat, khususnya para petani,” ujar Iyus.

Ia berharap pembangunan saluran irigasi tersebut dapat memberikan dampak positif terhadap hasil pertanian masyarakat serta menjadi infrastruktur yang bermanfaat dalam jangka panjang.

“Dengan irigasi yang baik, aliran air menuju sawah akan semakin lancar sehingga para petani tidak lagi kesulitan mendapatkan pasokan air, terutama saat musim kemarau. Kami optimistis program ini akan berdampak pada meningkatnya hasil panen dan kesejahteraan petani,” tambahnya.

Iyus juga mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama menjaga hasil pembangunan agar manfaatnya dapat dirasakan secara berkelanjutan.

“Kami mengimbau kepada seluruh warga agar ikut merawat saluran irigasi ini. Jangan membuang sampah ke saluran air dan mari rutin membersihkannya agar tidak terjadi penyumbatan. Infrastruktur ini dibangun menggunakan anggaran negara untuk kepentingan masyarakat, sehingga menjadi tanggung jawab kita bersama untuk menjaganya,” katanya.

Sementara itu, Kepala Dusun (Kadus) 03 Desa Pancawati, Asep, yang akrab disapa Daseng, menyampaikan apresiasi dan antusiasmenya atas pelaksanaan program P3-TGAI di wilayahnya. Menurutnya, pembangunan tersebut merupakan harapan yang telah lama dinantikan oleh masyarakat dan para petani.

“Kami sangat bersyukur dan menyambut dengan antusias adanya program P3-TGAI ini. Saluran irigasi yang baik sangat dibutuhkan petani untuk menunjang aktivitas pertanian. Semoga pembangunan ini membawa manfaat besar bagi masyarakat Desa Pancawati dan mampu meningkatkan produktivitas pertanian di wilayah kami,” ungkap Daseng.

Daseng juga mengajak seluruh masyarakat untuk mendukung pelaksanaan program sekaligus menjaga hasil pembangunan agar manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang.

“Kami siap mendukung penuh program ini dan mengajak seluruh masyarakat untuk menjaga serta merawat saluran irigasi yang telah dibangun. Dengan semangat gotong royong, kami yakin manfaat program ini akan terus dirasakan oleh para petani dan generasi yang akan datang,” pungkasnya.

Melalui pola swakelola, masyarakat yang tergabung dalam Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) dilibatkan secara langsung dalam proses pembangunan. Selain meningkatkan rasa memiliki terhadap hasil pembangunan, program ini juga diharapkan memperkuat semangat gotong royong, memberdayakan tenaga kerja lokal, serta mendukung peningkatan produktivitas pertanian di Desa Pancawati, Kecamatan Caringin.

Red

Program P3-TGAI Rp195 Juta di Desa Sukamahi Tingkatkan Infrastruktur Irigasi Pertanian

BOGOR.radarinformasi.com – Program Percepatan Peningkatan Tata Guna Air Irigasi (P3-TGAI) Tahun Anggaran 2026 kembali dilaksanakan di wilayah Kabupaten Bogor. Kali ini, pembangunan saluran irigasi dilaksanakan di Daerah Irigasi (D.I.) Ciseuseupan, Desa Sukamahi, Kecamatan Megamendung.

Program yang berada di bawah Direktorat Jenderal Sumber Daya Air, Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Ciliwung Cisadane tersebut didanai melalui APBN Tahun Anggaran 2026 dengan nilai kontrak sebesar Rp195.000.000.
Berdasarkan papan informasi kegiatan di lokasi, pekerjaan dimulai pada 17 Juni 2026 dengan Nomor PKS HK.02.01/PKS/Bbws4.9.4/VI/2026/417.89. Pelaksanaan kegiatan dipercayakan kepada P3A Mitra Cai Sahabat Sejati dengan Ketua Pelaksana Ujang Munzali.

Ujang Munzali mengatakan, pembangunan saluran irigasi melalui program P3-TGAI merupakan upaya pemerintah dalam meningkatkan kualitas jaringan irigasi guna mendukung produktivitas sektor pertanian. Menurutnya, saluran yang baik akan membuat distribusi air menuju lahan pertanian menjadi lebih lancar sehingga kebutuhan air para petani dapat terpenuhi secara optimal.

“Program ini merupakan bentuk perhatian pemerintah kepada para petani melalui pembangunan infrastruktur irigasi berbasis swakelola masyarakat. Kami berharap saluran yang telah dibangun ini dapat memperlancar aliran air ke area persawahan sehingga mampu meningkatkan hasil panen dan kesejahteraan para petani,” ujar pria yang akrab disapa Ust. Jali saat ditemui di lokasi, Sabtu (25/7/2026).

Ia menambahkan, keberhasilan program tidak hanya bergantung pada proses pembangunan, tetapi juga pada kepedulian masyarakat dalam menjaga fasilitas yang telah dibangun menggunakan anggaran negara.

“Kami mengimbau kepada seluruh warga, khususnya para petani, agar bersama-sama merawat saluran irigasi ini. Jangan membuang sampah ke saluran air dan rutin membersihkannya agar tidak terjadi penyumbatan yang dapat menghambat aliran air menuju lahan pertanian. Irigasi yang bersih dan terawat adalah tanggung jawab kita bersama agar manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang,” katanya.

Pada kesempatan tersebut, Ust. Jali juga menyampaikan apresiasi kepada Kepala Desa Sukamahi beserta jajaran Pemerintah Desa yang telah memberikan dukungan dan bantuan selama pelaksanaan kegiatan sehingga pekerjaan dapat berjalan dengan baik.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada Bapak Kepala Desa Sukamahi beserta seluruh jajaran atas dukungan dan kerja sama yang telah diberikan demi kelancaran pelaksanaan program ini. Harapan kami, amanah yang diberikan kepada seluruh pihak dapat dijaga dengan penuh tanggung jawab. Mari kita bersama-sama menjaga nama baik Desa Sukamahi, yang dikenal sebagai salah satu desa terbaik di Kabupaten Bogor, dengan bekerja secara jujur, transparan, serta selalu mengutamakan kepentingan masyarakat,” tuturnya.

Melalui pola swakelola, masyarakat yang tergabung dalam Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) dilibatkan secara langsung dalam proses pembangunan. Selain meningkatkan rasa memiliki terhadap hasil pembangunan, program ini juga diharapkan dapat memperkuat semangat gotong royong, memberdayakan tenaga kerja lokal, serta memastikan keberlanjutan pemeliharaan jaringan irigasi.

Dengan selesainya pembangunan saluran irigasi di D.I. Ciseuseupan, diharapkan pasokan air menuju lahan pertanian di Desa Sukamahi dapat semakin optimal, sehingga memberikan manfaat nyata bagi para petani sekaligus mendukung peningkatan produktivitas pertanian dan kesejahteraan masyarakat di Kecamatan Megamendung.

Red