Ratusan Warga Saksikan Kirab Tunggul dan Pataka, Indramayu Songsong Lima Abad

INDRAMAYU.radarinformasi.com — Suasana peringatan Hari Jadi ke-499 Kabupaten Indramayu berlangsung meriah. Ratusan warga memadati sepanjang jalur utama kota untuk menyaksikan Kirab Tunggul dan Pataka yang digelar pada Rabu (7/10/2026).

Kirab tahun ini dimeriahkan iring-iringan ratusan becak yang membawa Bupati Indramayu Lucky Hakim, Wakil Bupati Syaefudin, unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), serta sejumlah pejabat di lingkungan Pemerintah Kabupaten Indramayu.

Rombongan memulai perjalanan dari Pendopo Indramayu sekitar pukul 08.00 WIB dengan tujuan Gedung DPRD Kabupaten Indramayu. Kehadiran rombongan di gedung dewan tersebut untuk mengikuti Rapat Paripurna Istimewa dalam rangka peringatan Hari Jadi ke-499 Kabupaten Indramayu.

Dari pendopo, iring-iringan melintasi Jalan R.A. Kartini menuju Bundaran Adipura, kemudian melanjutkan perjalanan melalui Jalan Jenderal Sudirman hingga tiba di Gedung DPRD.

Sepanjang rute kirab, masyarakat dari berbagai kalangan tampak antusias menyaksikan jalannya prosesi. Anak-anak sekolah turut berdiri di tepi jalan untuk melihat langsung iring-iringan yang menjadi bagian dari tradisi peringatan hari jadi daerah tersebut.

Kirab Tunggul dan Pataka tidak hanya menjadi agenda seremonial, tetapi juga membawa pesan kebersamaan dalam menyambut lima abad perjalanan Kabupaten Indramayu. Tahun ini, peringatan mengusung tema “499 Tahun Mengukir Sejarah, Menyongsong Lima Abad, Indramayu Berjaya.”

Bupati Lucky Hakim menyampaikan bahwa usia 499 tahun merupakan bagian penting dari perjalanan sejarah Indramayu yang patut dihargai dan dijaga bersama. Menurutnya, momentum tersebut perlu dimanfaatkan untuk mempererat persatuan serta membangun semangat kolektif dalam memajukan daerah.

“Hari Jadi ke-499 Indramayu menjadi momentum untuk menghargai perjalanan panjang Indramayu sekaligus memperkuat semangat bersama menyongsong 5 abad. Sejarah menjadi pijakan, sedangkan persatuan dan kerja bersama menjadi kekuatan untuk membawa Indramayu semakin maju dan berjaya,” ujar Lucky Hakim.

Senada dengan itu, Wakil Bupati Syaefudin menilai kirab tersebut mencerminkan pentingnya kebersamaan seluruh elemen masyarakat dalam mengawal pembangunan daerah menuju usia lima abad.

“Menuju 5 abad, Indramayu membutuhkan kebersamaan seluruh unsur masyarakat,” ungkap Syaefudin.

Selain prosesi kirab, nuansa budaya lokal juga ditampilkan melalui penggunaan batik khas Indramayu oleh jajaran pemerintahan. Pemerintah Kabupaten Indramayu menghadirkan motif khusus yang dikenakan sesuai dengan unsur dan jabatan masing-masing.

Motif Iwak Etong digunakan oleh jajaran Forkopimda, sedangkan pejabat struktural dan para kuwu mengenakan batik bermotif Sekarniyem.

Penggunaan batik tersebut menjadi salah satu bentuk pengenalan identitas budaya daerah dalam agenda resmi pemerintahan. Selain memperkuat kekhasan peringatan hari jadi, langkah ini juga diharapkan dapat menumbuhkan kebanggaan masyarakat terhadap warisan budaya Indramayu.

Melalui semangat Indramayu REANG, pemerintah daerah terus mendorong pembangunan yang berorientasi pada terwujudnya masyarakat religius, perekonomian yang maju, kehidupan yang adil, serta lingkungan yang nyaman demi meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Sumber Diskominfo Kab. Indramayu

Andika

Ratusan Penari Muda Meriahkan Lomba Tari Topeng di Pantai Tirtamaya, Lestarikan Budaya Sekaligus Dongkrak Pariwisata

INDRAMAYU.radarinformasi.com – Pantai Tirtamaya menjadi panggung pelestarian seni budaya tradisional melalui penyelenggaraan Lomba Tari Topeng Kreasi Nusantara, Tari Topeng Samba, dan Tari Topeng Kelana yang digelar pada 4–5 Juli 2026.

Sebanyak 171 peserta dari jenjang TK hingga SMA ambil bagian dalam ajang tersebut. Kegiatan yang digagas Diamond Management di bawah pimpinan Kak Poepoen itu tidak hanya menjadi wadah bagi generasi muda menampilkan bakat, tetapi juga menjadi upaya mengenalkan kembali seni tari topeng kepada masyarakat luas.

Mengusung konsep pertunjukan di kawasan wisata, lomba ini diharapkan mampu memperkuat pelestarian budaya sekaligus meningkatkan daya tarik Pantai Tirtamaya sebagai destinasi wisata unggulan di Kabupaten Indramayu.

Dukungan terhadap kegiatan tersebut ditunjukkan Pemerintah Kabupaten Indramayu melalui kehadiran Pelaksana Tugas Kepala Bidang Destinasi dan Industri Pariwisata Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata (Dispara) Kabupaten Indramayu, Runita, yang secara resmi membuka acara.

Runita mengapresiasi inisiatif Diamond Management yang memadukan pelestarian budaya dengan pengembangan sektor pariwisata.

“Membawa seni tari topeng ke destinasi wisata seperti Pantai Tirtamaya merupakan langkah positif untuk memperkenalkan budaya lokal kepada wisatawan sekaligus mendorong pertumbuhan pariwisata daerah,” ujarnya.

Ia juga menilai antusiasme peserta dari kalangan anak-anak hingga remaja menjadi bukti bahwa generasi muda masih memiliki kepedulian terhadap warisan budaya daerah.

“Semangat peserta dari tingkat TK hingga SMA menunjukkan bahwa mereka tetap mencintai budaya daerah. Hal ini menjadi modal penting dalam membentuk karakter dan identitas generasi muda sebagai penerus pelestarian budaya Indramayu,” katanya.

Selain menjadi ajang kompetisi, kegiatan ini juga menjadi sarana edukasi budaya. Melalui berbagai karakter dalam Tari Topeng, seperti Topeng Samba yang ceria hingga Topeng Kelana yang gagah, para peserta diajak memahami nilai-nilai filosofi yang terkandung dalam seni tradisi sehingga diharapkan tumbuh menjadi generasi yang mampu mengikuti perkembangan zaman tanpa meninggalkan jati diri budayanya.

Sumber Diskominfo Indramayu

Andika

Tradisi Mapag Sri di Desa Tawangsari, Wujud Syukur Panen dan Pelestarian Budaya Indramayu

INDRAMAYU – radarinformasi.com – Suasana Desa Tawangsari, Kecamatan Arahan, Kabupaten Indramayu, dipenuhi nuansa budaya dan kebersamaan saat ratusan warga mengikuti tradisi Mapag Sri. Tradisi turun-temurun tersebut digelar sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil panen padi sekaligus upaya melestarikan warisan budaya masyarakat agraris Indramayu. Rabu (1/7/2026)

Mapag Sri, yang secara harfiah berarti “menjemput Dewi Sri” sebagai simbol kesuburan dan kemakmuran, menjadi salah satu tradisi yang masih terus dijaga masyarakat. Puncak acara ditandai dengan kirab hasil bumi, tumpeng robyong, serta pagelaran wayang kulit dengan lakon Dewi Sri.

Kuwu Desa Tawangsari, Eva Rosyani, mengatakan tradisi ini bukan sekadar perayaan panen, tetapi juga menjadi sarana memperkuat nilai-nilai kebersamaan, rasa syukur, dan pelestarian budaya bagi generasi penerus.

“Mapag Sri ini bukan sekadar pesta panen. Ini doa kita kepada Allah SWT agar panen tahun depan lebih baik lagi. Sekaligus mengingatkan anak cucu agar tetap mengenal dan mencintai adat istiadat masyarakat Indramayu,” ujarnya.

Rangkaian kegiatan diawali dengan kirab gunungan hasil bumi dari area persawahan menuju Balai Desa. Warga membawa berbagai hasil pertanian seperti padi, ketan, buah-buahan, dan sayuran yang diiringi kesenian tarling serta kentrung. Setelah doa bersama, hasil bumi tersebut dibagikan kepada masyarakat sebagai simbol rasa syukur dan kebersamaan.

Ketua Panitia Mapag Sri, Tarkim, yang juga menjabat sebagai Raksa Desa, menjelaskan bahwa generasi muda dilibatkan secara aktif dalam seluruh rangkaian kegiatan.

“Anak-anak mulai dari tingkat SD hingga Karang Taruna kami libatkan sebagai penari, penabuh kendang, maupun pembawa gunungan. Harapannya, tradisi ini tetap lestari dan tidak tergerus perkembangan zaman,” katanya.

Antusiasme masyarakat terlihat tinggi. Salah seorang warga, Rohaya (55), mengaku sengaja pulang dari Jakarta untuk mengikuti tradisi yang telah menjadi bagian dari kenangan masa kecilnya.

“Saya rindu suasana kampung. Dulu waktu kecil sering diajak orang tua mengikuti Mapag Sri. Sekarang cucu saya juga bisa ikut merasakan tradisi ini,” tuturnya.

Budayawan Indramayu, Darpan, turut mengapresiasi konsistensi masyarakat Desa Tawangsari dalam menjaga tradisi lokal. Menurutnya, Mapag Sri merupakan warisan budaya yang memiliki nilai luhur dan patut terus dilestarikan.

“Di tengah perkembangan teknologi dan media sosial, masih ada desa yang tetap menjaga tradisi seperti ini. Tawangsari layak menjadi contoh desa yang berhasil melestarikan budaya lokal,” ujarnya.

Pemerintah Desa Tawangsari berkomitmen menjadikan Mapag Sri sebagai agenda budaya tahunan sekaligus mendorongnya menjadi salah satu daya tarik wisata budaya di Kabupaten Indramayu.

“Kami berharap ke depan Mapag Sri semakin dikenal luas. Rencananya tahun depan kami akan berkolaborasi dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata agar tradisi ini dapat menjadi ikon wisata budaya Indramayu,” pungkas Eva Rosyani.

Reporter : Andika

Ratusan Warga Linggajati Meriahkan Tradisi Mapag Sri

INDRAMAYU.radarinformasi.com – Suasana khidmat sekaligus meriah mewarnai halaman Kantor Desa Linggajati, Kecamatan Arahan, Kabupaten Indramayu. Ratusan warga dari berbagai kalangan berkumpul dalam perayaan adat budaya Mapag Sri sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas hasil panen yang melimpah, Selasa (16/6/2026).

Tradisi Mapag Sri merupakan warisan budaya turun-temurun yang hingga kini terus dilestarikan oleh masyarakat Desa Linggajati. Selain menjadi ungkapan syukur para petani atas keberhasilan panen, tradisi ini juga menjadi simbol penghormatan terhadap alam serta nilai-nilai budaya leluhur yang telah mengakar dalam kehidupan masyarakat.

Kegiatan yang dipusatkan di halaman kantor desa tersebut semakin semarak dengan penampilan seni wayang kulit Ringgit Purwa yang dibawakan oleh dalang H. Rusdi. Pertunjukan wayang tidak hanya menjadi hiburan bagi masyarakat, tetapi juga sarana edukasi untuk mengenalkan dan menanamkan nilai-nilai budaya kepada generasi muda.

Prosesi adat berlangsung khidmat dipimpin para sesepuh desa dan diikuti tokoh masyarakat, pemangku adat, tokoh agama, pemerintah desa, serta para petani. Kehadiran berbagai unsur masyarakat tersebut menunjukkan kuatnya semangat kebersamaan dalam menjaga tradisi dan keharmonisan sosial.

Kuwu Desa Linggajati, Wahyudin, mengatakan bahwa Mapag Sri bukan sekadar pesta panen, melainkan momentum untuk mempererat silaturahmi dan memperkuat persatuan masyarakat.

“Tradisi ini menjadi simbol kebersamaan masyarakat dan bentuk penghormatan terhadap budaya warisan para leluhur. Semoga hasil panen tahun ini membawa keberkahan bagi seluruh warga Desa Linggajati,” ujarnya.

Menurut Wahyudin, semangat gotong royong yang tercermin dalam pelaksanaan Mapag Sri sejalan dengan visi pembangunan Indramayu REANG (Religius, Ekonomi Kerakyatan, Aman, Nyaman, dan Gotong Royong).

Ia menegaskan, Pemerintah Desa Linggajati berkomitmen untuk terus menjaga dan melestarikan warisan budaya sebagai bagian dari identitas masyarakat sekaligus mendukung pembangunan desa yang berkelanjutan.

Selain pelestarian budaya, Wahyudin juga menekankan pentingnya peningkatan kualitas hidup masyarakat melalui berbagai program pembangunan.

“Salah satu fokus utama yang akan kami wujudkan adalah peningkatan infrastruktur dan pelayanan publik. Kami siap bekerja sama dengan pemerintah daerah dan seluruh pemangku kepentingan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” katanya.

Melalui pelaksanaan Mapag Sri, masyarakat Desa Linggajati tidak hanya merayakan hasil panen, tetapi juga memperkuat nilai-nilai kebersamaan, gotong royong, dan kecintaan terhadap budaya lokal.

Tradisi ini diharapkan terus terjaga dan berkembang sebagai warisan budaya yang mampu mempererat persatuan masyarakat sekaligus memperkuat identitas budaya Kabupaten Indramayu di tengah arus modernisasi.

Reporter : Andika

Festival Kaulinan Sunda dan Kreatifitas Guru PAUD/TK Meriahkan Hari Jadi Bogor ke-544 di Ciawi

BOGOR.radarinformasi.com — Festival Kaulinan Sunda dan Kreatifitas Guru PAUD/TK dalam rangka rangkaian Hari Jadi Bogor ke-544 Tahun 2026 digelar meriah di Ballroom Chevilly Resort & Camp, Kecamatan Ciawi, Kamis (21/5/2026). Kegiatan yang dimulai pukul 08.00 WIB tersebut diikuti oleh seluruh guru PAUD dan TK se-Kecamatan Ciawi.

Acara turut dihadiri Camat Kecamatan Ciawi, Saeful Jack Peter, S.Sos., M.M., Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bogor Dr. Rusliandy, S.STP., M.Si., M.E., Anggota DPRD Kabupaten Bogor KH. Ading Ahmad Nadzir, S.Ag., Ketua PKG Kecamatan Ciawi Hj. Tini Suhartini, S.Pd., unsur Forkopimcam, serta para tamu undangan lainnya.

Kegiatan diawali dengan pembacaan tilawah Al-Qur’an, dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars Tegar Beriman. Setelah itu, acara diteruskan dengan sambutan dari para tamu undangan yang menyampaikan apresiasi terhadap pelestarian budaya Sunda melalui dunia pendidikan anak usia dini.

Ketua PKG Kecamatan Ciawi Hj. Tini Suhartini, S.Pd, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi kepada seluruh guru PAUD dan TK yang telah berpartisipasi dalam menyukseskan festival budaya tersebut.

“Festival ini bukan hanya menjadi ajang kreativitas antar gugus, tetapi juga sebagai sarana mempererat silaturahmi dan menanamkan kecintaan terhadap budaya Sunda kepada anak-anak sejak usia dini,” ujarnya.

Acara dilanjutkan dengan sambutan Camat Ciawi yang menyampaikan bahwa kaulinan Sunda tidak hanya menjadi bagian dari budaya daerah, tetapi juga sarana pendidikan karakter bagi anak-anak sejak usia dini.

“Melalui kaulinan Sunda, anak-anak diajarkan nilai kebersamaan, sportivitas, serta kecintaan terhadap budaya daerah. Kegiatan seperti ini penting untuk terus dilestarikan di tengah perkembangan teknologi dan budaya modern,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bogor Dr. Rusliandy menegaskan pentingnya kreativitas guru PAUD dan TK dalam membangun pendidikan berbasis budaya lokal.

“Guru PAUD dan TK memiliki peran penting dalam membentuk karakter anak sejak dini. Festival ini menjadi wadah kreativitas sekaligus bentuk nyata pelestarian budaya Sunda di lingkungan pendidikan,” katanya.

Hal senada disampaikan Anggota DPRD Kabupaten Bogor KH. Ading Ahmad Nadzir, S.Ag. Menurutnya, budaya Sunda harus terus dikenalkan kepada generasi muda agar tidak tergerus zaman.

“Kegiatan ini sangat positif karena mampu menggabungkan unsur pendidikan, budaya, dan kreativitas. Kami berharap festival seperti ini dapat terus didukung dan menjadi agenda rutin,” ungkapnya.

Dalam festival tersebut, sejumlah gugus dari Kecamatan Ciawi menampilkan hasil karya kreatif masing-masing. Selain memamerkan karya, setiap gugus juga menampilkan permainan tradisional “Kaulinan Sunda” yang menjadi ciri khas budaya Sunda dan sarat nilai edukasi bagi anak-anak.

Suasana acara semakin semarak dengan berbagai hiburan bernuansa budaya Sunda, seperti tari jaipong, penampilan lagu-lagu Sunda, hingga permainan alat musik angklung. Penampilan tersebut mendapat antusias dari para peserta dan tamu undangan yang hadir.

Sebagai bentuk apresiasi, panitia juga memberikan cinderamata kepada perwakilan Chevilly Resort & Camp atas dukungan dan fasilitas yang diberikan sehingga kegiatan festival dapat berlangsung dengan lancar.

Acara ditutup dengan pengumuman para pemenang lomba antar gugus PKG Kecamatan Ciawi serta pembacaan doa penutup. Festival ini diharapkan dapat menjadi sarana mempererat silaturahmi antar guru PAUD/TK sekaligus melestarikan budaya Sunda di kalangan generasi muda.

Reporter : Bule

Menelusuri Lebih Jauh May Day: Sejarah dan Makna Hari Buruh Internasional

BOGOR.radarinformasi.com – Setiap tanggal 1 Mei, berbagai negara di dunia memperingati Hari Buruh Internasional atau yang dikenal sebagai May Day. Di Indonesia, peringatan ini tidak hanya menjadi hari libur nasional, tetapi juga momentum penting bagi para pekerja untuk menyuarakan aspirasi mereka.

Sejarah May Day berakar dari perjuangan buruh di Chicago pada tahun 1886. Saat itu, ribuan pekerja melakukan aksi besar-besaran menuntut pengurangan jam kerja menjadi delapan jam sehari. Aksi tersebut memuncak dalam peristiwa yang dikenal sebagai Haymarket Affair, yang kemudian menjadi simbol perjuangan hak-hak pekerja di seluruh dunia.

Peringatan 1 Mei kemudian diadopsi secara internasional sebagai Hari Buruh, termasuk di Indonesia. Pada masa kolonial Hindia Belanda, peringatan ini sudah mulai dilakukan oleh kelompok buruh sebagai bentuk solidaritas global. Namun, pada era Orde Baru, peringatan May Day sempat dilarang karena dianggap berkaitan dengan ideologi tertentu.

Setelah memasuki era reformasi, kebebasan untuk memperingati Hari Buruh kembali terbuka. Puncaknya, pada tahun 2013, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menetapkan 1 Mei sebagai hari libur nasional di Indonesia.

Kini, May Day tidak hanya diperingati sebagai hari bersejarah, tetapi juga menjadi ajang bagi pekerja untuk menyampaikan tuntutan, seperti peningkatan kesejahteraan, perlindungan tenaga kerja, serta kondisi kerja yang lebih layak. Di berbagai kota, aksi unjuk rasa hingga kegiatan sosial kerap mewarnai peringatan ini.

Dengan memahami sejarah May Day, masyarakat diharapkan dapat melihat bahwa hari ini bukan sekadar tanggal merah, melainkan simbol perjuangan panjang untuk keadilan dan hak-hak pekerja.

Red

Tradisi Nadran Karangsong Kembali Digelar, Ribuan Warga Tumpah Ruah Rayakan Syukur Laut

INDRAMAYU.radarinformasi.com – Desa Karangsong, Kecamatan Indramayu, Kabupaten Indramayu kembali menghidupkan tradisi budaya pesisir melalui perayaan Nadran yang digelar. Tradisi tahunan ini berlangsung meriah dan khidmat sebagai wujud rasa syukur masyarakat nelayan atas limpahan rezeki dari laut, Rabu (8/4/2026).

Kegiatan yang diselenggarakan oleh Kelompok KPL Mina Sumitra tersebut dihadiri ribuan warga, khususnya para nelayan beserta keluarga. Mereka memadati lokasi acara untuk mengikuti rangkaian kegiatan, mulai dari doa bersama, pertunjukan seni tradisional, hingga berbagai atraksi budaya yang sarat makna.

Ketua KPL Mina Sumitra, H. Suwito, menyampaikan bahwa tradisi nadran bukan sekadar seremoni, melainkan bentuk ungkapan syukur masyarakat pesisir kepada Tuhan Yang Maha Esa.

“Tradisi ini merupakan warisan turun-temurun yang harus terus dilestarikan. Selain sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil laut, juga menjadi momentum mempererat kebersamaan antarwarga,” ujarnya.

Ia berharap melalui pelaksanaan nadran, hasil tangkapan nelayan ke depan semakin meningkat serta keselamatan saat melaut tetap terjaga.

Sementara itu, Ketua Panitia Pelaksana, Amsori, mengungkapkan bahwa seluruh rangkaian kegiatan telah dipersiapkan jauh hari sebelumnya. Ia mengapresiasi partisipasi aktif masyarakat yang bergotong royong demi suksesnya acara tersebut.

“Berkat kebersamaan dan dukungan berbagai pihak, perayaan nadran tahun ini berjalan lancar dan meriah. Semoga tradisi ini terus terjaga dan membawa berkah bagi masyarakat,” tuturnya.

Perayaan berlangsung penuh semarak melalui pesta rakyat dan berbagai pertunjukan budaya, mencerminkan kekayaan tradisi serta kuatnya nilai kebersamaan masyarakat pesisir Indramayu.

Reporter : Andika

GH Taman Anggur Az Zikri Al-Amaliyah Desa Ciawi Tunjukkan Perkembangan Pesat, Siap Memasuki Masa Panen Perdana

BOGOR.radarinformasi.com – Green House (GH) Taman Anggur Az Zikri Al-Amaliyah yang dibangun melalui Program Ketahanan Pangan Dana Desa Tahun Anggaran 2025 kini menunjukkan perkembangan yang sangat pesat. Beberapa bulan setelah pertama kali diliput, kawasan budidaya anggur ini terus mengalami peningkatan signifikan, baik dari segi perawatan, teknik budidaya, hingga pertumbuhan tanaman.

Sejak tahap awal, GH ini menanam tiga varietas anggur unggulan internasional, yaitu Red Rose asal Prancis yang dikenal dengan warna merah cerah dan rasa manisnya, Cherry Crystal dari Rusia yang memiliki tekstur renyah dan aroma khas, serta Transfigurasi dari Ukraina yang terkenal dengan ukuran buah besar dan tingkat produktivitas tinggi. Ketiga varietas ini dipilih karena adaptif dan memiliki potensi pasar menjanjikan.

Perkembangan GH ini juga menarik perhatian luas. Beberapa negara tetangga telah melakukan kunjungan studi ke lokasi, termasuk komunitas pertanian modern yang ingin mempelajari teknik budidaya anggur berbasis greenhouse. Selain itu, dinas-dinas terkait dari tingkat kabupaten hingga provinsi turut melakukan peninjauan untuk melihat efektivitas program ketahanan pangan yang dijalankan oleh Desa Ciawi.

Proses budidaya dilakukan secara terstruktur mulai dari penyemaian benih, pemupukan terjadwal, hingga perawatan intensif oleh tim pengelola. Kini, tanaman-tanaman tersebut telah memasuki fase pembentukan bakal buah. Tandan dari ketiga varietas mulai terlihat dan menandakan bahwa masa panen perdana akan segera tiba.

Kepala Desa Ciawi, Nana Sumarna, S.Ag, turut memberikan apresiasi atas perkembangan GH ini. “Alhamdulillah, perkembangan greenhouse anggur ini sangat membanggakan. Ini adalah hasil kerja keras bersama, dan kami berharap GH Taman Anggur Az Zikri Al-Amaliyah bisa menjadi ikon ketahanan pangan Desa Ciawi. Kami juga siap menjadi desa percontohan bagi desa-desa lain yang ingin mengembangkan budidaya hortikultura modern,” ujarnya saat ditemui di lokasi, Sabtu (6/12/2025).

Dengan pencapaian ini, GH Taman Anggur Az Zikri Al-Amaliyah diharapkan dapat terus berkembang sebagai pusat edukasi sekaligus peluang ekonomi baru bagi masyarakat, serta memperkuat posisi Desa Ciawi sebagai desa yang inovatif dalam sektor ketahanan pangan.

Rizal

Desa Haurgeulis Jadi Andalan Indramayu pada Verifikasi Akhir P2WKSS 2025

INDRAMAYU.radarinformasi.com – Desa Haurgeulis resmi menjadi perwakilan Kabupaten Indramayu dalam verifikasi akhir Program Peningkatan Peranan Wanita Menuju Keluarga Sehat dan Sejahtera (P2WKSS) Tahun 2025. Proses penilaian digelar secara daring melalui Zoom Meeting dari Balai Desa Haurgeulis, Kecamatan Haurgeulis, yang tersambung dengan Indramayu Command Center serta tim penilai di Jakarta, Rabu (03/12/25).

Sekretaris Disduk-PPA Kabupaten Indramayu, Agung Suhartono, menyebut tahapan ini merupakan peluang terakhir bagi desa untuk menunjukkan hasil pembinaan P2WKSS. Ia mengapresiasi kekompakan pemerintah desa dan masyarakat yang dinilai aktif mengikuti seluruh rangkaian program.

“Semoga upaya yang sudah dilakukan selama ini berbuah hasil terbaik bagi Desa Haurgeulis,” kata Agung.

Sementara itu, Sekretaris Daerah Kabupaten Indramayu, Aep Surahman, yang hadir mewakili Bupati Lucky Hakim, menyampaikan bahwa Haurgeulis menunjukkan perkembangan nyata. Mulai dari perbaikan lingkungan, peningkatan perilaku hidup bersih dan sehat, hingga penguatan kapasitas perempuan melalui berbagai pelatihan.

“Saya memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh perangkat daerah, TP-PKK di semua tingkatan, pemerintah desa, para kader, tokoh masyarakat, serta warga Haurgeulis yang telah bergerak bersama demi mewujudkan Indramayu REANG melalui pemberdayaan perempuan dan pembangunan berbasis masyarakat,” ujarnya.

Pada proses penilaian, Desa Haurgeulis memamerkan sejumlah inovasi unggulan yang menjadi kekuatan desa dalam program P2WKSS. Di antaranya, Jasmine School (Jadikan Aku Sukses Mengelola Rumah Tangga dengan Efektif), Pais Oncom (Pantau Lingkungan dan Sekolah melalui Command Center), Popoen Hiber (Pos Pendamping Proses Produk Halal dan NIB), Balon (Budidaya Ikan dalam Galon), serta WARPAZADA (Warung PKK Apa Aja Ada).

Verifikasi akhir P2WKSS ini menjadi momentum penting untuk memastikan keberlanjutan program sekaligus mendorong peningkatan kesejahteraan perempuan dan keluarga di Indramayu. Hasil penilaian diharapkan mampu memperkuat komitmen bersama dalam membangun desa yang lebih sehat, mandiri, dan berdaya.

(Andika/S/Diskom)

Tradisi Sedekah Bumi di Desa Brondong, Bentuk Rasa Syukur dan Kebersamaan

INDRAMAYU.radarinformasi.com – Tradisi Sedekah Bumi kembali digelar warga Desa Brondong, Kecamatan Pasekan. Kegiatan adat yang berlangsung meriah ini menjadi ungkapan syukur atas hasil panen serta berkah yang diterima masyarakat sepanjang tahun. Beragam unsur masyarakat turut hadir, menjadikan acara ini sebagai momentum kebersamaan, Rabu (26/11/2025).

Kuwu Brondong, Sunendi Sunanto, menyampaikan bahwa Sedekah Bumi bukan hanya ritual adat, tetapi juga ajang mempererat hubungan sosial dan menjaga tradisi yang diwariskan leluhur.

“Alhamdulillah, kegiatan ini berjalan dengan baik dan antusiasme masyarakat sangat luar biasa. Kami juga berterima kasih atas kehadiran serta dukungan Forkopimcam Kecamatan Pasekan,” ucapnya.

Dari kesempatan berbeda, Camat Pasekan H. Taryadi memberikan apresiasi atas konsistensi Desa Brondong dalam melestarikan tradisi tersebut. Menurutnya, Sedekah Bumi merupakan cerminan budaya masyarakat yang menjunjung nilai syukur, persatuan, dan gotong royong.

“Tradisi ini patut dicontoh daerah lain karena mampu membangun solidaritas dan menjaga identitas lokal,” kata Taryadi.

Selain ritual doa bersama, acara juga menghadirkan pagelaran wayang kulit serta pembagian hasil bumi kepada warga. Seluruh rangkaian kegiatan berjalan lancar, penuh kebersamaan, dan menjadi sarana edukasi budaya bagi generasi muda.

(Andika/Sbr/Uncu)