
INDRAMAYU.radarinformasi.com – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Indramayu menggelar audiensi terkait rencana program revitalisasi tambak di kawasan Pantai Utara (Pantura). Pertemuan tersebut diwarnai penolakan tegas dari Koalisi Masyarakat Pesisir Indramayu (KOMPI) terhadap proyek yang dinilai berpotensi merugikan masyarakat lokal, Senin (6/4/2026).
Program revitalisasi tambak ini merupakan bagian dari Proyek Strategis Nasional (PSN) yang diinisiasi Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bersama Pemerintah Kabupaten Indramayu. Proyek tersebut direncanakan mencakup lahan seluas kurang lebih 2.875 hektare yang tersebar di sejumlah kecamatan, dengan tujuan meningkatkan produktivitas melalui modernisasi sistem budidaya perikanan.
Namun demikian, rencana tersebut memicu kekhawatiran di kalangan masyarakat pesisir, khususnya para petambak yang tergabung dalam KOMPI. Dalam audiensi yang berlangsung di Gedung DPRD, mereka menyuarakan penolakan dengan berbagai alasan mendasar.
Salah satu perwakilan KOMPI menyatakan bahwa program tersebut dinilai tidak melibatkan masyarakat sebagai mitra aktif, melainkan berpotensi menggeser kepemilikan lahan yang telah dikelola secara turun-temurun. Ia menegaskan, jika proyek tetap dijalankan, ribuan petambak dan pekerja dikhawatirkan kehilangan sumber penghidupan.
Selain itu, KOMPI juga menyoroti kurangnya sosialisasi serta minimnya ruang dialog antara pemerintah dan masyarakat sejak tahap awal perencanaan. Kondisi ini dinilai menciptakan kesan kebijakan sepihak yang memicu keresahan di tengah warga pesisir.
Menanggapi hal tersebut, DPRD Indramayu menyatakan komitmennya untuk menampung seluruh aspirasi yang berkembang. Lembaga legislatif daerah itu juga berjanji akan melakukan kajian lebih mendalam guna mencari solusi yang mampu mengakomodasi kepentingan semua pihak.
Audiensi berlangsung dalam suasana yang cukup dinamis, namun tetap kondusif.
Hingga akhir pertemuan, belum tercapai kesepakatan antara kedua belah pihak. Diskusi lanjutan pun direncanakan sebagai upaya mencari titik temu yang adil dan berkelanjutan bagi semua pihak terkait.
Reporter : Andika









