Polindra dan Pantai Bali 2 Bersinergi, Mahasiswa Ciptakan Mesin Pengolah Air Payau

INDRAMAYU.radarinformasi.com – Politeknik Negeri Indramayu (Polindra) bersama pengelola Pantai Balongan Indah atau Pantai Bali 2 menjalin sinergi melalui penerapan teknologi tepat guna untuk mengatasi kebutuhan air di kawasan wisata.

Kolaborasi tersebut diwujudkan melalui pembuatan mesin pengolah air payau menjadi air yang dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan sanitasi dan mandi, cuci, kakus (MCK).

Mesin hasil karya mahasiswa Polindra itu diperkenalkan dalam acara soft opening yang digelar di halaman Pantai Wisata Bali 2, Jalan Raya Balongan, Desa Balongan, Kecamatan Balongan, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, Selasa (21/7/2026).

Kegiatan tersebut dihadiri Direktur Politeknik Negeri Indramayu Ir. Rofan Aziz, S.T., M.T., IPM., beserta jajaran, Ketua Pantai Balongan Indah Akso Surya Darmawangsa bersama jajaran, serta sejumlah awak media.

Dalam sambutannya, Ketua Pantai Balongan Indah Akso Surya Darmawangsa mengatakan, kolaborasi tersebut menjadi bagian dari upaya membangun sinergi antara sektor pariwisata dan dunia pendidikan.

Menurut Akso, pengelola kawasan wisata perlu terus belajar dan berinovasi agar mampu berkembang serta memberikan dampak positif bagi masyarakat sekitar.

“Alhamdulillah acara ini bisa terlaksana. Sebenarnya dari awal tidak ada rencana untuk mengadakan acara seperti ini. Namun, tujuan kami adalah agar tempat-tempat wisata di sepanjang pantai ini juga mau belajar dan berkembang. Belajarnya tidak harus ke Bali, tetapi bisa belajar ke Polindra,” ujarnya.

Ia berharap, sinergi tersebut dapat mendorong pengembangan sumber ekonomi lokal sehingga manfaatnya dapat dirasakan oleh masyarakat, khususnya warga Balongan.

“Ini merupakan upaya untuk mencapai tujuan dan mengembangkan sumber ekonomi kita agar ekonomi dapat tumbuh dan manfaatnya bisa kembali kepada masyarakat, khususnya warga Balongan,” katanya.

Sementara itu, saat ditemui awak media, Direktur Polindra Ir. Rofan Aziz, S.T., M.T., IPM., menjelaskan bahwa kerja sama tersebut berawal dari persoalan kebutuhan air di kawasan Pantai Bali 2.

“Sekarang kita bersinergi dengan wisata Pantai Balongan 2. Ada permasalahan air bersih di pantai ini, sehingga kita selesaikan dengan membuat mesin penjernih air,” ungkap Rofan.

Ia menjelaskan, mesin tersebut dirancang untuk mengolah air payau agar dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan sanitasi dan MCK.

“Air payau ini kita olah menjadi air yang layak digunakan untuk mandi dan kebutuhan sanitasi di kawasan Pantai Balongan,” jelasnya.

Rofan menambahkan, mesin tersebut merupakan hasil karya mahasiswa Polindra yang dikembangkan sebagai bagian dari tugas akhir.

“Ini merupakan hasil karya mahasiswa dan tugas akhir mahasiswa. Kami ingin agar tugas akhir yang dibuat di Polindra dapat bermanfaat bagi masyarakat sekitar,” ujarnya.

Mesin pengolah air tersebut dibuat oleh dua mahasiswa semester VIII Politeknik Negeri Indramayu, yakni Ahmad Farhani dan Anggerata Gama Inka.

Salah satu pembuat mesin, Ahmad Farhani, menjelaskan kepada awak media bahwa mesin tersebut mampu menghasilkan sekitar tujuh liter air per menit atau sekitar 420 liter per jam.

Jika dioperasikan selama 24 jam, kapasitas produksinya diperkirakan dapat mencapai sekitar 10.000 liter air per hari.

Ahmad menjelaskan, proses pengolahan air dilakukan melalui beberapa tahapan. Air dari sumur bor terlebih dahulu ditampung di tandon pertama untuk menjalani proses pengendapan.

Selanjutnya, air dialirkan melalui sistem penyaringan untuk mengurangi bau, kadar zat besi, kekeruhan, ion, serta berbagai partikel halus.

Dalam proses filtrasi, mesin tersebut menggunakan sejumlah media penyaring, di antaranya pasir silika, mangan, karbon aktif, dan media filter lainnya.

Setelah melalui proses penyaringan, air kemudian dialirkan ke tandon kedua sebelum dipompa melalui membran. Air hasil pengolahan tersebut selanjutnya dimanfaatkan untuk kebutuhan sanitasi dan MCK.

Ahmad mengatakan, proses pembuatan mesin tersebut membutuhkan waktu hampir dua bulan. Salah satu tantangan yang dihadapi adalah terbatasnya referensi mengenai mesin pengolahan air payau dengan konsep yang dikembangkan.

“Referensi mengenai mesin seperti ini masih minim. Saya banyak belajar secara otodidak, berdiskusi dengan pihak Polindra, serta belajar dari para teknisi yang berpengalaman,” ungkapnya.

Ia menuturkan, ide pembuatan mesin tersebut berawal dari obrolan bersama sejumlah pihak, termasuk pengelola Pantai Balongan Indah, Bapak Hasan, serta ayahnya, Sobari.

Gagasan tersebut kemudian dikembangkan untuk menjawab persoalan tingginya biaya penggunaan air PDAM yang selama ini menjadi salah satu beban operasional kawasan wisata.

“Latar belakang saya membuat mesin ini karena pernah mendengar keluhan mengenai biaya PDAM yang cukup tinggi, bisa mencapai sekitar Rp8 juta hingga Rp10 juta. Dari situ muncul ide, kenapa tidak membuat mesin untuk mengolah air yang tersedia di sekitar pantai,” katanya.

Ia berharap, keberadaan mesin tersebut dapat membantu mengurangi biaya penggunaan air PDAM sekaligus mengoptimalkan pemanfaatan sumber air yang tersedia di sekitar kawasan Pantai Balongan.

Kolaborasi Polindra dan pengelola Pantai Bali 2 tersebut menjadi salah satu contoh penerapan hasil karya mahasiswa dalam menjawab kebutuhan nyata di masyarakat.

Melalui sinergi tersebut, inovasi yang lahir dari lingkungan akademik diharapkan tidak berhenti sebagai tugas akhir, tetapi dapat terus dikembangkan dan memberikan manfaat bagi masyarakat serta pelaku usaha pariwisata.

Reporter : Andika

Teknologi CAS Polindra Perpanjang Masa Simpan Mangga hingga 25 Hari

INDRAMAYU.radarinformasi.com – Tim dosen Politeknik Negeri Indramayu (Polindra) dari Kelompok Bidang Keahlian (KBK) Program Studi Teknik Pendingin dan Tata Udara (TPTU) mengembangkan teknologi Controlled Atmosphere Storage (CAS) untuk memperpanjang masa simpan buah mangga. Inovasi ini ditujukan sebagai solusi pascapanen agar komoditas unggulan daerah tersebut lebih tahan lama dan bernilai jual lebih tinggi.

Ketua tim peneliti, AA Setiawan S.T., M.T., menjelaskan bahwa penelitian telah rampung dan siap untuk tahap pengembangan lanjutan di masyarakat. Pernyataan itu disampaikan kepada awak media pada Selasa (14/4/2026) di lingkungan kampus Polindra.

Menurutnya, teknologi CAS bekerja dengan mengatur komposisi gas di dalam ruang penyimpanan. Mesin tersebut menurunkan kadar oksigen (O₂) hingga sekitar 1–3 persen, meningkatkan nitrogen (N₂), serta menambah kadar karbon dioksida (CO₂) hingga sekitar 10 persen. Kondisi ini mampu memperlambat proses pematangan dan pembusukan buah.

“Tanpa perlakuan khusus, mangga umumnya hanya bertahan 7 hingga 10 hari sebelum membusuk. Dengan teknologi CAS, masa simpannya bisa diperpanjang hingga sekitar 25 hari,” ujarnya.

Ia menambahkan, sistem CAS diimplementasikan dalam ruang pendingin atau lemari pendingin yang telah dimodifikasi. Pengaturan atmosfer tersebut menjadi kunci utama dalam menjaga kualitas buah selama penyimpanan.

Penelitian ini melibatkan lima dosen dari Prodi TPTU Polindra serta mahasiswa tingkat akhir yang menjadikannya sebagai proyek tugas akhir dengan fokus pada perancangan dan pembuatan mesin CAS.

Dari sisi pendanaan, riset ini didukung melalui hibah internal Polindra yang dikelola oleh Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (P3M) pada tahun anggaran 2025. Pengembangan lanjutan direncanakan berlangsung pada 2026 dengan penyempurnaan teknologi dan peningkatan kapasitas alat.

Ke depan, tim peneliti berencana mendorong penerapan teknologi ini di masyarakat melalui program pengabdian serta menjalin kemitraan dengan pihak industri. Hal tersebut dinilai penting mengingat Indramayu dikenal sebagai salah satu sentra produksi mangga di Indonesia.

“Harapannya, teknologi ini bisa diadopsi dan dikembangkan hingga skala lebih besar, sehingga memberi manfaat ekonomi yang nyata bagi masyarakat,” tutupnya.

Reporter : Andika

Wabup Syaefudin Apresiasi Kontribusi POLINDRA Kembangkan SDM Masyarakat Indramayu

INDRAMAYU.radarinformasi.com – Menyambut Dies Natalis ke-17, Politeknik Negeri Indramayu (Polindra) menggelar kegiatan Senam Massal yang berlangsung meriah di halaman kampus pada hari ini, Jumat (20/6/2025). Kegiatan ini diikuti oleh jajaran rektorat, dosen, tenaga kependidikan, dan lainnya. 

Wakil Bupati Indramayu, Syaefudin, turut hadir dan membuka secara resmi kegiatan dengan pelepasan balon ke udara sebagai simbol semangat dan harapan baru bagi kemajuan Polindra ke depan. 

Dalam sambutannya, Wakil Bupati menyampaikan apresiasi atas kontribusi Polindra dalam pengembangan sumber daya manusia di Kabupaten Indramayu. Selain itu, usia 17 tahun bagi Polindra telah memberikan kontribusi terbaik bagi kemajuan daerah dan banyak memberikan masukan bagi pemerintah daerah Indramayu. 

“Polindra telah menjadi bagian penting dalam pembangunan daerah, khususnya dalam mencetak generasi muda yang kompeten dan siap bersaing di dunia kerja. Semoga di usia ke-17 ini, Polindra makin maju dan inovatif,” ujar Syaefudin.

Direktur Polindra, Rofan Aziz menyampaikan bahwa rangkaian kegiatan Dies Natalis akan terus berlanjut hingga puncak acara. Salah satu yang kini terus dipersiapkan oleh Polindra adalah mengembangkan status menjadi Universitas dengan cakupan pendidikan lebih luas untuk masyarakat. 

“Kami ingin momen ulang tahun ini menjadi refleksi bersama untuk terus berinovasi dan memperkuat peran Polindra dalam mendukung kemajuan Indramayu. Kami terus mengusahakan mimpi kami untuk menjadi Universitas,” ungkap Rifan. 

Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang olahraga dan kebersamaan, tetapi juga mempererat hubungan antara kampus dengan pemerintah daerah serta masyarakat. Senam massal ditutup dengan pembagian doorprize yang menambah semangat dan antusiasme peserta.

Usai mengikuti senam bersama, Wakil Bupati juga berkesempatan meninjau sejumlah fasilitas kampus, termasuk laboratorium teknik, laboratorium perawat, ruang kelas, serta area pengembangan lainnya. Peninjauan ini menjadi bentuk dukungan Pemerintah Daerah terhadap peningkatan kualitas sarana dan prasarana pendidikan di Polindra.

Reporter : Andika
Redaktur : Rizal