81 Tahun Merdeka, Begini Perjalanan Panjang Indonesia hingga Proklamasi 17 Agustus 1945

BOGOR.radarinformasi.com – Tepat pada 17 Agustus 2026, bangsa Indonesia memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Di balik kemeriahan perayaan, pengibaran bendera Merah Putih hingga berbagai perlombaan di pelosok negeri, terdapat perjalanan panjang dan penuh pengorbanan yang mengantarkan Indonesia menjadi negara merdeka.

Kemerdekaan Indonesia tidak lahir secara tiba-tiba.

Jauh sebelum Proklamasi dibacakan, wilayah Nusantara telah mengalami penjajahan. Berbagai kerajaan dan masyarakat di daerah melakukan perlawanan terhadap kekuasaan kolonial. Namun, perjuangan yang masih bersifat kedaerahan membuat perlawanan tersebut belum mampu membebaskan seluruh Nusantara.

Memasuki awal abad ke-20, muncul perubahan besar dalam perjuangan bangsa Indonesia.

Perjuangan mulai bergeser dari perlawanan bersenjata yang bersifat lokal menuju gerakan kebangsaan. Berdirinya Budi Utomo pada 20 Mei 1908 menjadi salah satu tonggak penting yang kemudian dikenal sebagai Kebangkitan Nasional.

Kesadaran sebagai satu bangsa semakin tumbuh. Berbagai organisasi pergerakan muncul dan mulai menyuarakan cita-cita kemerdekaan.

Puncak penting dari tumbuhnya semangat persatuan terjadi pada 28 Oktober 1928.

Dalam Kongres Pemuda II, para pemuda mengikrarkan Sumpah Pemuda: bertumpah darah satu, berbangsa satu, dan menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia.

Semangat tersebut menjadi salah satu fondasi penting menuju lahirnya Indonesia sebagai sebuah negara.

Jepang Datang, Penjajahan Berlanjut

Namun perjalanan menuju kemerdekaan masih panjang.

Pada 1942, Jepang mengambil alih kekuasaan dari Belanda dan menduduki Indonesia. Harapan sebagian rakyat bahwa Jepang akan membebaskan Indonesia justru berujung pada penderitaan baru.

Rakyat mengalami berbagai bentuk penindasan, termasuk pengerahan tenaga secara paksa melalui sistem romusha.

Situasi berubah ketika Jepang mulai mengalami kekalahan dalam Perang Dunia II.

Pada Agustus 1945, Amerika Serikat menjatuhkan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki. Jepang kemudian menyerah kepada Sekutu pada 15 Agustus 1945.

Kabar kekalahan Jepang menjadi momentum yang sangat penting bagi para pejuang Indonesia.

Golongan muda mendesak Soekarno dan Mohammad Hatta agar segera memproklamasikan kemerdekaan tanpa menunggu keputusan Jepang.

Perbedaan pandangan tersebut kemudian melahirkan Peristiwa Rengasdengklok pada 16 Agustus 1945, ketika Soekarno dan Hatta dibawa oleh sejumlah pemuda ke Rengasdengklok, Karawang.

Setelah melalui perundingan, keduanya kembali ke Jakarta.

Pada malam harinya, teks Proklamasi dirumuskan di kediaman Laksamana Tadashi Maeda. Soekarno, Mohammad Hatta dan Ahmad Soebardjo terlibat dalam perumusan naskah tersebut, sementara Sayuti Melik kemudian mengetiknya.

Detik-Detik Proklamasi

Pagi 17 Agustus 1945, suasana di Jalan Pegangsaan Timur 56, Jakarta, menjadi saksi salah satu peristiwa paling bersejarah dalam perjalanan bangsa Indonesia.

Sekitar pukul 10.00 WIB, Soekarno membacakan teks Proklamasi didampingi Mohammad Hatta.

Bendera Merah Putih kemudian dikibarkan.

Indonesia menyatakan dirinya sebagai negara yang merdeka.

Namun, proklamasi bukan berarti perjuangan langsung berakhir.

Belanda berusaha kembali menguasai Indonesia setelah Perang Dunia II. Perlawanan pun terjadi di berbagai daerah. Salah satu yang paling dikenal adalah Pertempuran Surabaya 10 November 1945.

Selain melalui perjuangan bersenjata, para pemimpin Indonesia juga melakukan diplomasi untuk mempertahankan kemerdekaan.

Perjuangan panjang tersebut akhirnya membawa Indonesia menuju pengakuan kedaulatan oleh Belanda pada 27 Desember 1949.

81 Tahun Kemerdekaan

Kini, 81 tahun setelah Proklamasi, Indonesia telah melewati perjalanan yang sangat panjang.

Dari bangsa yang terpecah dalam berbagai wilayah dan kerajaan, kemudian tumbuh menjadi satu bangsa melalui semangat kebangsaan, hingga akhirnya berdiri sebagai negara yang merdeka.

Karena itu, peringatan HUT ke-81 RI pada 17 Agustus 2026 bukan sekadar seremoni tahunan.

Merah Putih yang berkibar menjadi pengingat bahwa kemerdekaan dibangun melalui pengorbanan, persatuan dan keberanian para pendahulu bangsa.

Pertanyaan bagi generasi hari ini bukan lagi bagaimana merebut kemerdekaan dari penjajah.

Melainkan, apa yang sudah dilakukan untuk menjaga dan mengisi kemerdekaan yang telah diperjuangkan dengan begitu mahal tersebut?

Sebab, 81 tahun Indonesia merdeka bukan hanya tentang menghitung usia sebuah negara, tetapi juga tentang melihat sejauh mana cita-cita kemerdekaan benar-benar dirasakan oleh seluruh rakyat Indonesia.

Red

Napiter Lapas Subang Ucap Ikrar Setia NKRI

INDRAMAYU.radarinformasi.com – Dua narapidana tindak pidana khusus terorisme yang menghuni Lapas Kelas IIA Subang berikrar setia kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), Selasa (23/5/2023).
 
Ikrar itu diucapkan oleh Luigi Juniano dan Muhamad Yusuf bertempat di Aula Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Subang.

Kedua narapidana teroris (napiter) tersebut berjanji setia berpegang teguh kepada Pancasila dan UUD 1945 serta turut serta melindungi segenap Tanah Air Indonesia dari segala tindakan-tindakan aksi terorisme yang dapat memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia.
 
Kepala Lapas Subang, Tommy Hendri, melalui Kasi Pembinaan dan Pendidikan Cepy Mulyawan, dalam sambutannya menyatakan bahwa ikrar setia pada NKRI bertujuan sebagai bentuk implementasi hasil akhir program deradikalisasi yang diucapkan sebagai bentuk kesungguhan serta pengikat tekad dan semangat.

“Ikrar ini untuk menegaskan kembali bahwa para napiter bersedia kembali membangun kehidupan berbangsa dan bernegara dalam bingkai NKRI,” ujar Cepy.
 
Tahapan pelaksanaan ikrar NKRI di Lapas Kelas IIA  Subang telah dirumuskan sebagai suatu kegiatan yang utuh, intergratif, dan berkesinambungan serta sinergitas antara Lapas Kelas IIA Subang dengan BNPT, Densus 88, BIN, dan Kodim hingga Kementerian Sosial. 
 
“Ikrar setia NKRI ini sebagai bentuk pembuktian pelaku individu dan kelompok untuk bersedia meninggalkan atau melepaskan diri mereka dari aksi dan kegiatan terorisme. Sekaligus menjadi pencerah kepada orang-orang di sekitarnya dan membantu pemerintah dalam menghambat proses penyebaran radikalisme di masyarakat,” kata Cepy.

Kadivpas Kemenkumham Jabar, Kusnali, menerangkan, dengan telah melaksanakan ikrar setia ini, narapidana terorisme kembali kepada NKRI dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika.
 
Lebih lanjut, dia juga mengapresiasi langkah-langkah yang telah diambil Lapas Subang dalam melaksanakan pembinaan kepada napiter sehingga mampu melaksanakan upacara ikrar setia NKRI kepada dua napiter.

“Semoga ke depan, Lapas Subang tetap menjaga sinergitas dan kolaborasi dengan aparat penegak hukum terkait seperti dengan Polres, Densus, BNPT, BIN, Kodim, dan stakeholder lainnya dalam melaksanakan tugas dan fungsinya, terutama dalam membina napiter,” ucapnya.

Dengan pernyataan ikrar setia kepada NKRI ini berarti warga binaan telah siap untuk mencintai NKRI dan bersama-sama menjaga Pancasila dengan menghargai perbedaan yang ada dan memahami bahwa Pancasila bukan hanya berkedudukan sebagai dasar Indonesia. Tetapi juga sebagai ideologi nasional, pandangan hidup Bangsa Indonesia, dan pemersatu bangsa.
 
“Dengan dilaksanakannya kegiatan pernyataan ikrar setia kepada NKRI ini, kami berharap hal ini mampu menjadi awal bagi saudara-saudara warga binaan untuk menjadi anggota masyarakat yang memiliki kesadaran terhadap hak dan kewajiban baik sebagai individu. Serta mampu bersikap dan bertingkah laku sebagai insan hamba Tuhan, yang mampu menggunakan cipta, rasa, dan karsa secara tepat, sehingga dapat bersikap adil, beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan agama dan kepercayaan masing-masing,” ucapnya.

Seorang narapidana terorisme yang berikrar setia kepada NKRI, Luigi Juliano, mengaku beruntung mendapat pembinaan deradikalisasi di dalam lapas.

Dia juga berterima kasih karena mendapat perlakuan yang baik dan tidak dikriminatif narapidana walau terbilang berstatus sebagai narapidana kategori ekstraordinari.  

“Terima kasih kepada pihak Lapas Subang yang telah sabar memberi pembinaan dengan sangat baik, humanis tanpa kekerasan dan tidak diskriminatif,. Hal ini sangat menyentuh hati kami hingga proses deradikalisasi dapat diterima dengan baik,” tuturnya.
 
Ia berjanji akan setia dan patuh kepada NKRI dan ikut serta menjaga masyarakat bangsa dan negara dari segala aksi terorisme yang dapat memecah belah persatuan dan kesatuan. 

“Mulai hari ini saya berjanji akan setia kepada NKRI, menjunjung tinggi ideologi Pancasila dan Undang-undang Dasar I945,” ucap Luigi Juliano didampingi Muh.

Reporter  : Slamet H
Redaktur  : Dewi