Lucky Hakim Soroti Perubahan dan Kepemimpinan sebagai Pelayan Rakyat dalam Debat Pilkada Indramayu 2024

INDRAMAYU.radarinformasi.com- Dalam debat publik Pilkada Indramayu 2024 yang digelar di Hotel Holiday Inn Bandung pada 4 November 2024, calon Bupati Lucky Hakim menekankan pentingnya perubahan dalam tata kelola pemerintahan. Ia mengungkapkan bahwa pemimpin daerah, seperti Bupati dan Wakil Bupati, seharusnya berperan sebagai pelayan rakyat, bukan bertindak seperti raja yang jauh dari aspirasi masyarakat.

Selama masa kampanye, Lucky mengklaim telah mengunjungi lebih dari 1.700 lokasi di seluruh Indramayu untuk mendengar langsung keluhan dan aspirasi masyarakat, termasuk dari petani, seniman, dan pengusaha. Lucky menyatakan bahwa banyak masyarakat yang mengeluhkan kegagalan panen, sulitnya akses terhadap pupuk, dan masalah infrastruktur serta perizinan yang berlarut-larut.

Dalam debat itu, Lucky juga memberikan kritik kepada calon petahana Nina Agustina, meskipun tanpa maksud menyerang pribadi. Ia menyoroti bahwa berbagai masalah seperti sampah yang menumpuk, jalan yang rusak, dan perizinan yang sulit masih dirasakan warga Indramayu.

“Memimpin itu tidak bisa dilakukan seorang diri. Tidak seharusnya ada tindakan yang terburu-buru, seperti sedikit-sedikit pecat atau sedikit-sedikit lapor polisi,” ujarnya, menekankan pentingnya kepemimpinan yang kolaboratif dan tidak otoriter.

Lucky menutup pernyataannya dengan optimisme akan visi dan misinya untuk membawa perubahan di Indramayu, seraya menyatakan bahwa kepemimpinannya bersama wakilnya akan amanah.

Reporter  : Andika

Redaktur  : Rizal

Kampanye Hitam Warnai Pilkada Indramayu 2024, Program Dokmaru Jadi Sorotan

INDRAMAYU.radarinformasi.com – Jum’at, 18 Oktober 2024, kampanye hitam kembali mencuat dalam masa kampanye Pilkada Indramayu 2024. Pasangan calon (paslon) tertentu menggunakan cara ini untuk menjatuhkan lawan politik mereka. Sabtu (19/10/24).

Wakil Ketua DPC PDIP Indramayu, Nanang Qosim, menyatakan bahwa kampanye hitam yang berisi ujaran kebencian kerap digunakan untuk menyudutkan program pemerintah daerah.

“Padahal, program-program tersebut berjalan di tengah masyarakat dan manfaatnya sudah dirasakan oleh banyak warga,” kata Nanang.

Salah satu program yang diserang adalah “Dokter Masuk Rumah” (Dokmaru), sebuah program pemerintah yang dipelesetkan menjadi “dodok, mangan, turu” atau “duduk, makan, tidur” dalam bahasa Indonesia.

Nanang menduga, kampanye hitam tersebut dilakukan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab untuk menjatuhkan paslon lain dengan ujaran kebencian.

Program Dokmaru sendiri dirancang untuk memfasilitasi masyarakat yang sakit dengan cara mengirimkan dokter langsung ke rumah sebagai langkah awal perawatan.

Kasti, warga Desa Lobener, Kecamatan Jatibarang, mengaku sangat merasakan manfaat dari program ini. Ia menceritakan bahwa petugas Puskesmas Jatisawit datang ke rumahnya saat anaknya mengalami kelainan pada langit-langit bibir dan mulut. Anaknya kemudian dirujuk ke RSUD Indramayu untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut.

“Program Dokmaru sudah sangat membantu saya, terutama bagi keluarga miskin seperti saya. Terima kasih Bu Nina,” ujar Kasti, merujuk pada Bupati Indramayu, Nina Agustina, yang terlibat langsung dalam program ini.

Hal senada disampaikan oleh Karyo Sadam, warga Desa Junti Kedokan. Ia mengatakan bahwa tim kesehatan dari Puskesmas Juntinyuat datang ke rumahnya setelah ia melaporkan sakit yang dialaminya.

“Sudah dua kali saya mendapatkan layanan Dokmaru, pertama akibat keracunan mie instan, dan kedua karena muntah-muntah setelah panen padi,” jelas Karyo.

Data dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Indramayu menunjukkan bahwa hingga saat ini, program Dokmaru telah melayani 4.814 warga yang sakit.

Di tengah kampanyenya, cabup nomor urut 3 selalu mengingatkan masyarakat agar bijak dalam menyerap informasi. Ia meminta warga untuk tidak mudah percaya pada berita bohong atau hoaks, dan berharap Pilkada Indramayu 2024 berlangsung damai tanpa upaya saling menjatuhkan.

“Kita semua ingin Pilkada ini berlangsung damai, tanpa ada yang saling menjatuhkan. Masyarakat harus bisa menilai mana yang terbukti nyata hasil kerjanya dan mana yang tidak,” tutupnya.

Reporter  : Andika

Redaktur  : Rizal