Manajemen PLN Kasak Kusuk Cari Pembocor Informasi Penyebab Blackout Bali, Darmo dan Dirut Indonesia Power Kompak Bungkam

JAKARTA.radarinformasi.com – Transparansi yang selalu digaungkan penyelenggara negara nyatanya tak dipenuhi sepenuhnya oleh sejumlah pihak. Indikasi itu pula yang dilakukan PT PLN (Persero) dalam kasus padamnya listrik secara total atau Blackout yang terjadi di Bali pekan lalu. Kamis (8/5)

Pihak PLN sebagai perusahaan plat merah sebagai pengelola tunggal sistem kelistrikan dalam negeri, diduga melakukan pembohongan publik terkait blackout di Pulau Dewata.

Sebaliknya, begitu kasus ini terungkap ke permukaan, manajemen PLN Pusat di Jalan Trunojoyo, Jakarta Selatan, justru kasak kusuk. Bukannya berupaya meluruskan kebohongan informasi yang mereka sampaikan, kabarnya PLN justru sibuk mencari sumber yang membocorkan fakta itu ke publik.

“Iya pada kebakaran jenggot semua pejabat PLN setelah berita penyebab blackout Bali muncul di media, sekarang lagi dicari siapa yang membocorkan informasi yang sudah ditutup rapat itu,” ujar sumber, Kamis (8/5/2025).

Kata sumber, karena memang apa yang disampaikan media semua itu fakta sebenarnya.

“Ya kan dalam kasus ini harus ada kambing hitamnya. Karena kalau benar akibat ganggung kabel bawah laut, coba saja PLN berani tidak memunculkan kerusakan yang terjadi dan tidak mungkin normalisasi pemadaman akibat kerusakan kabel bawah laut bisa dilakukan dalam waktu 12 jam, itu pasti bisa berhari-hari,” tegasnya.

Sumber juga mengaku sangat setuju jika Presiden Prabowo melalui Menteri BUMN segera mengambil langkah strategis untuk mencopot Dirut PLN Darmawan Prasodjo yang selama ini hanya mengedepankan pencitraan.

“Mohon kepada Presiden, Menteri BUMN dan pihak terkait lainnya, coba investigasi langsung ke PLN, bagaimana nasib kami sekarang, tertekan dan tidak nyaman kerja karena prilaku Dirut bersama kroninya khususnya yang prohire. Pegawai organik yang tidak circle-nya dihabisi, yang dimanja cuma pegawai yang mampu menjilat Darmo,” bener sumber seraya meminta identitasnya dirahasiakan.

Sementara itu, Dirut PT PLN (Persero) Darmawan Prasodjo lagi-lagi memilih bungkam terkait kasus ini, meski yang bersangkutan sudah mengetahui pemberitaan yang sudah beredar luas di sejumlah media online.

Gerakan tutup mulut juga dilakukan Dirut PLN Indonesia Power Edwin Nugraha yang dinilai sebagai salah satu pihak paling bertanggungjawab dalam peristiwa blackout di Bali.

Pelanggan Harus Tuntut Kompensasi

Sementara itu, terungkapnya penyebab utama terjadinya gangguan sistem kelistrikan yang menyebabkan Blackout di Pulau Bali sekitar 5 jam pada Jumat, 2 Mei 2025 mulai pukul 15.30 WITA hingga baru bisa dipulihkan 100% selama 12 jam, seolah menjadi fakta baru betapa bobroknya manajemen PLN di bawah kepemimpin Darmawan Prasodjo alias Darmo.

Untuk it, dalam kasus blackout di Bali, Ketua Umum Ikatan Wartawan Online (IWO) Teuku Yudhistira, juga meminta warga untuk membuat petisi atau saling dukung mendukung untuk meminta kompensasi.

“Kalau saya menyarankan, 1,8 juta pelanggan PLN harus meminta ganti rugi terhadap PLN atas apa dampak yang terjadi akibat blackout itu,” ujarnya.

Karena di samping melumpuhkan aktivitas masyarakat, pemadaman listrik total itu informasinya juga dipastikan membuat Bali merugi dari berbagai sektor.

Sebelumnya, pria bergelar Magister Komunikasi ini juga menyatakan bahwa, ada upaya pembohongan publik yang dilakukan PLN dalam kasus blackout hingga menyebabkan Bali merugi dalam jumlah besar.

“Karena berdasarkan keterangan berbagai sumber yang kami himpun, sebelum terjadi gangguan di PLTU Celukan Bawang unit #1, PLTU Celukan Bawang unit #3 sedang dilakukan pemeliharaan. Sedangkan transfer dari Jawa ke Bali lewat kabel laut dijaga pada 290 MW,” ungkap Yudhistira dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (7/5/2025).

Beber Yudhis, semua pembangkit di Bali sudah berbeban maksimum. Lantas, pada pukul 15.02 WITA, Semua kabel laut terdiri dari 1,2,3 dan 4, semuanya  trip. Sementara dari data pembebanan kabel laut, tripnya dipicu oleh lonjakan transfer kabel laut dari 290 MW menjadi 470 MW atau naik sebesar 180 MW. Kenaikan ini disebabkan tripnya pembangkit PLTG Pesanggrahan unit 5 dan 6.

“Artinya apa, dari info yang kami terima, blackout listrik Bali disebabkan oleh Trip nya PLTG Pesanggrahan unit 5 dan 6, bukan kabel Transmisi yang banyak diberitakan,” tandasnya.

“Jadi jangan demi menyelamatkan muka, Dirut PLN mencari kambing hitam dalam masalah ini, sampai melakukan pembohongan publik. Kami juga menerima informasi bahwa pembangkit PLTG Pesanggaran unit 5 dan 6 inilah sebelumnya adalah hasil relokasi dari Tambak Lorok ke Pesanggrahan dalam rangka G20 yang diinstruksikan Dirut PLN. Tapi ironisnya, baru 2 tahun kurang beroperasi malah sudah menyebabkan gangguan. Coba tanya Darmo, siapa rekanan yang mendapat pekerjaan itu?, karena kabarnya itu mitra kerja kroninya,” beber Yudhis.

Sambung Yudhistira lagi, kondisi itu memicu turunnya transfer akibat defense scheme kabel laut bekerja. Akan tetapi, manuver itu tidak cukup, karena masih melewati batasan transfer sebesar 420 MW sehingga proteksi overload kabel laut bekerja mentripkan seluruh kabel laut (1,2,3,4).

“Dan berdasarkan informasi yang kami himpun ini dapat dikatakan bahwa blackout Bali disebabkan oleh tripnya pembangkitan di Pesanggrahan Bali milik PT. Indonesia Power dan lamanya pemulihan karena recovery PLTG Gilimanuk dan PLTU Celukan Bawang, bukan diakibatkan gangguan transmisi ataupun kabel laut,” ujarnya.

Atas fakta-fakta tersebut, Yudhistira mengaku geram melihat Direksi PLN yang terkesan berbohong dalam kasus blackout Bali dan hanya memunculkan berita keberhasilan pemulihan tanpa membeberkan fakta secara benar.

“Berkaca dari kasus ini, jelas yang paling bertanggung jawab dalam kasus ini adalah Darmawan Prasodjo sebagai Dirut PLN, Adi Lumakso sebagai Direktur Manajemen Pembangkitan dan Edwin Nugraha Putra, Dirut PLN Indonesia Power. Dan kami menilai Darmawan Prasodjo sudah tidak layak memimpin PLN. Untuk itu kami mendesak Presiden Prabowo, jika memang berniat membersihkan BUMN, copot Dirut PLN dan bongkar semua kroni-kroninya. Dan jika memang UU KPK tidak bisa menangkap Direksi dan Komisaris BUMN, kami meminta intrumen hukum lain yakni Kejaksaan Agung dan Kortas Tipikor Polri untuk turun tangan menyelidiki kasus ini secara keseluruhan hingga tuntas,” pungkasnya.

Red

Muncul Gerakan Bayar Media Minta Takedown Berita Negatif PLN, Ketum IWO: Kalau Bersih, Kenapa Harus Risih

JAKARTA.radarinformasi.com – Manajemen PT PLN (Persero) di bawah kepemimpinan Darmawan Prasodjo alias Darmo, sepertinya terus melakukan berbagai cara menutupi kebobrokannya. Bersama kroni-kroninya, Darmo kabarnya berupaya secara maksimal menyelamatkan diri dari sorotan kasus dugaan korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) yang kini mendera. Rabu (8/1)

Indikasi itu terendus, menyusul munculnya gerakan dari oknum eksternal yang mendekati media di sejumlah daerah. Dengan iming-iming sejumlah uang. Timbal baliknya, oknum-oknum tersebut meminta pemberitaan negatif menyangkut PLN untuk dihapus (takedown).

Informasi di lapangan menyebutkan, fokus dari gerakan itu terkait berita soal PT Sahitya Amartya Konsultama (SAK) sebagai vendor ‘anak emas’ dan meminta Menteri BUMN Erick Thohir mencopot Darmawan Prasodjo terkait isu perjalanan dinas fiktif ke Australia.

Ketua Umum PP Ikatan Wartawan Online (IWO) Teuku Yudhistira yang terus menyoroti berbagai kasus di PLN mengatakan, isunya mobilisasi gerakan itu dilakukan oleh rekanan yang selama ini memiliki kontrak kerjasama dengan PLN.

“Sejak awal kami sudah mendapat informasi tersebut, karena rekan-rekan kita pengurus IWO baik di Provinsi dan Kabupaten Kota, memang ada dihubungi sejumlah pihak yang mengaku mendapat arahan dari manajemen PLN dan informasinya yang hire wartawan juga,” tegas Yudhistira di Jakarta, Rabu (8/1/2025).

Kata Yudhis, bagi sebuah koorporasi, menjaga citra tentu sangat wajar dilakukan, apalagi dalam rangka menyelamatkan wajah, sekaligus meredam citra negatif lewat siaran berita yang bisa saja bergulir ke ranah hukum.

“Yang jelas, ini cara-cara lama. Apalagi kita tau bagaimana karakter Darmawan Prasodjo yang selalu berusaha tampil perfeksionis. Pencitraan yang dibangunnya selama menjabat lewat berbagai framing keberhasilan memimpin PLN dan ratusan atau mungkin lebih dari seribu penghargaan diduga berbayar yang diperolehnya bisa hancur karena ternyata kebobrokan dan dugaan KKN di dalam PLN terungkap ke publik lewat sorotan pemberitaan media,” ungkapnya.

Namun di sisi lain, sambung Yudhis, permintaan take down berita negatif khususnya terkait PT SAK ‘anak emas’ PLN dan permintaan pencopotan Darmawan Prasodjo sebagai Dirut PLN, semakin memperkuat indikasi bahwa semua yang ditemukan pihaknya adalah fakta.

“Pertanyaannya, kalau Darmo dan kroni-kroninya memang bersih, kenapa risih?. Lantas kenapa berita-berita itu minta di take down. Ada Apa? Atau Apa ada?,” ucapnya.

Atas permintaan itu pula, lanjut Yudhis, pihaknya sudah mendapatkan informasi dari jajarannya di daerah, bahwa ada pihak-pihak sengaja menggelontorkan anggaran besar.

“Kami masih telusuri, permintaan take down berita itu kebijakan siapa? Anggarannya dari mana? Kalau dari PLN jelas itu uang negara. Karena yang kami dengar ada juga media nasional yang menurunkan berita soal Darmo ke Australia. Kabarnya nominal kompensasinya sampai puluhan atau ratusan juta gitu. Sedangkan untuk media daerah, kami dengar suapnya antara 1 hingga 2 juta rupiah per-media. Ini jelas bagian dari gratifikasi,” bebernya.

Lebih jauh Ketua Umum Forum Masyarakat Pemantau Negara (Formapera) ini menyampaikan, begitu berita tentang PT SAK mencuat, berdasarkan pantauan langsung tim IWO di Kantor PLN Pusat, Jl. Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, manajemen perusahaan vendor tersebut terlihat kasak kusuk mendatangi Kantor PLN.

“Kita tidak dapat informasi pasti apa yang dibahas di Kantor PLN. Tapi yang jelas perusahaan vendor itu sangat terganggu dan mulai menyusun skema lewat pemufakatan agar mereka bisa lolos dari kejahatan korporasi tersebut,” sebutnya.

Leo Manurung sebagai salah satu Manager Sub Sidang di Divisi Komunikasi ketika dikonfirmasi melalui saluran telepon, berkilah dan tak mengakui adanya perintah soal pembayaran terhadap media untuk take down berita. Namun yang bersangkutan tak mampu menjawab saat disinggung siapa pihak yang berbaik hati membayar sejumlah media untuk menghapus berita negatif tentang PLN tersebut.

“Benar yang bersangkutan mengaku tidak tahu menahu soal permintaan takedown itu. Ya itukan haknya mau jawab apa. Tapi logikanya tidak mungkin kan ada relawan yang mau bantu PLN untuk membayarkan biaya takedown itu ke media,” ucap Yudhis.

Sementara, terkait masalah ini, Dirut PLN Darmawan Prasodjo, Direktur HC Yusuf Didi Setiarto, Sekper Alois Wisnuhardana dan EVP Komunikasi Gregorius Adi Putranto yang dikonfirmasi Selasa (7/1/2025), lagi-lagi kompak bungkam meski pesan konfirmasi yang dikirim melalui pesan singkat WhatsApp terkait masalah ini, sudah mereka baca.

Red

Daftar Nama Pejabat PLN yang Dicopot Beredar, Ketum SP Malah Tuduh Wartawan

JAKARTA.radarinformasi.com – Teka teki sejumlah inisial pejabat PLN yang dicopot Dirut PLN Darmawan Prasodjo belum lama ini mulai beredar luas. Dari data yang dihimpun, ada 6 nama pejabat Eselon 1 yang dicopot dalam 2 minggu terakhir yang disebut-sebut karena tidak bisa memenuhi keinginan. Kamis (24/10).

Mereka adalah:

1. Karyawan Adji – Direktur Manajemen Human Capital PLN Nusantara Power
2. ⁠Muhammad Reza – Direktur Pengembangan Bisnis dan Niaga PLN Nusantara Power
3. ⁠Agung Nugraha Putra – Executive Vice President Operasi Distribusi Sumatera Kalimantan
4. ⁠Abdul Muchlis Executive Vice President Operasi Distribusi Jawa Madura Bali
5. ⁠Eric Rossi Priyo Nugroho – General Manager UID Sumatera Barat
6. ⁠Maria I Gunawan – Executive Vice President Customer Experience

Beredarnya daftar nama ini pun semakin memicu kekisruhan di tubuh PLN, meski sejauh ini tidak satupun jajaran direksi, khususnya Dirut PLN yang buka suara.

Sementara, Ketua Umum SP PLN, M. Abrar Ali yang sebelumnya slow respon saat dikonfirmasi mengakui tidak tahu. Dia malah balik menuduh wartawan.

“Nggak tau kita itu Om..yang tau yang buat Om,” balasnya melalui pesan singkat WhatsApp sambil menyelipkan emoticon tertawa, Rabu malam (23/10/2024).

Sebelumnya, PT PLN (Persero) yang kini masih di bawah kepemimpinan sang Dirut Darmawan Prasodjo alias Darmo, terus menerus menuai sorotan. Apalagi di balik framing pencitraan lewat berbagai penghargaan yang diraih mantan Caleg PDI Perjuangan itu, ternyata tersimpan berbagai aib yang kabarnya mulai membuat resah jajaran pegawai.

Permasalahan di perusahaan strum itu semakin santer, menyusul beredarnya surat kaleng pada Rabu, 23 Oktober 2024, dengan pengirim dan penulis anonim, yang ditujukan kepada Ketua Umum Serikat Pekerja (SP) PLN Muhammad Abrar Ali.

Secara garis besar, surat tersebut menjabarkan sejumlah inisial yang diduga pejabat teras PLN yang diistilahkan sebagai Sengkuni (tokoh jahat perwayangan) dan Kurawa, yang tak lain berwatak serupa.

Lantas siapa sosok pejabat yang dimaksud dalam tersebutmelakukan berikut isi surat kaleng tersebut yang dihimpun wartawan secara utuh.

_Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Salam Sejahtera untuk kita semua, Namo Budaye, Salam Kebajikan.._

Yang Saya Banggakan Ketua Umum SP PLN : Uda Abrar dan jajaran pengurus SP PLN Kantor Pusat

Disclaimer :
1. Email atau laporan terbuka ini dikirimkan tidak bermaksud untuk memojokkan atau menjelekkan beberapa pihak atau person dan tidak bermaksud untuk mencemarkan nama baik person.
2. Email atau laporan terbuka ini hanya bersifat DIDUGA /DUGAAN sang penulis dan tidak memfitnah, untuk fakta di lapangan SILAKAN dicari sendiri.
3. Email atau laporan terbuka ini hanya untuk mengingatkan kita semua untuk lebih peduli bahwa PLN adalah tempat kita beramal ibadah, mencari nafkah keluarga kita.
4. Penulis mohon maaf apabila ada ketersinggungan secara person.

PLN adalah sebuah Perusahaan BUMN yang seharusnya dalam pengelolaanya juga harus professional. Sangat bangga sekali dengan jumlah award yang diterima oleh DIRUT PLN, mungkin jumlahnya ratusan. Dan kita tidak tahu berapa biaya (Sponsorship, CSR, dll) yang kemungkinan dikeluarkan demi mendapatkan award ini. Mungkin inilah disebut sindrom narsistic dan semoga ini tidak menjadi wabah.


Abang Ketum SP, melalui laporan terbuka ini saya hanya ingin melaporkan hal-2 sebagai berikut:

1. Pembentukan Sub Holding Pembangkit
Jika kita melihat kebelakang, sebenarnya apa manfaat pembentukan Sub Holding? Toh pengelolaan keuangan ternyata dilakukan terpusat di Holding PLN yang artinya dulu dalam sosialisasi, SH akan lebih lean dalam pengambilan Keputusan, gimana mau Lean ? yang ada justru semua diduga atas instruksi DP ((istilah dalam wayang kita sebut saja SENGKUNI ). Justru kalau Ketum SP dan pengurusnya peduli, seharusnya dilihat bagaimana pengelolaan ipp yang ternyata Perusahaan swasta dikawinkan dengan Sub Holding. Bahkan metode seperti dulu EPC, justru diduga ditolak oleh DP bahkan murka SENGKUNI jika ada yang masih mengusulkan EPC padahal EPC bernilai positif untuk Perusahaan kita.
Ya semoga KETUM SP terbuka mata hati nya, walupun KETUM SP dan SEKJEND diduga mungkin sering diajak diskusi oleh DP dan DS
2. Arogansi dalam Pengelolaan SDM
Dalam 2 tahun kepemimpinan Sengkuni ini banyak hal-hal yang  tidak wajar dan bukan merupakan mencerminkan kepemimpinan seorang pemimpin di BUMN. Kita mulai dari beberapa waktu yang lalu :

a) RH (Direktur OP BB IP) dicopot karena apa? Banyak orang mengira kalau RH dianggap tidak perfom dan diangkat isunya bersamaan dengan kasus Suralaya yang dianggap memberikan polusi untuk Jakarta. Apakah Ketum SP tahu kalau pencopotannya diduga karena ada perintah SENGKUNI  harus dibeli dari sang penjual (OBP) ini konon kabarnya memilki power dalam pemerintahan, dan masalahnya adalah Batubara yang ternyata low kalori yang tidak sesuai spesifikasi kalori BB. Cilakanya adalah apakah pengganti RH lebih baik? Bahkan H sang pengganti RH adalah DIROPS IP yang dievaluasi atau dicopot karena performance nya

b) MIG (EVP CES) dicopot karena masalah penyajian data pelanggan subsidi. Ternyata data tersebut diduga akan digunakan sebagai salah satu program pencitraan SENGKUNI di depan suksesor dari presiden terpilih. Karena data nya tidak selesai sesuai harapan, padahal penanggung jawab data itu adalah IT loh pak KETUM SP, atau pak KETUM SP belum tahu KSDTI nya juga pilihan SENGKUNI dan EVP MDG nya juga kaki tangan SENGKUNI dari kantor sebelumnya dari Kerajaan KURAWA. SENGKUNI itu kan Paman dari para KURAWA.
Pertanyaannya apakah pengganti MIG (BAP) LEBIH BAIK dari MIG, oh karenaa BAP merupakan kaki tangan SENGKUNI sebelumnya???

c) AM (EVP ODJ) AN (EVP ODS) dicopot diduga tidak memenuhi undangan dari SENGKUNI. Pertannyaanya : AM dan AN menghadiri acara yang ditugaskan oleh AP (Direktur), apakah salah ? seharusnya AP yang bertanggung jawab atau AP diduga sebagai salah satu KURAWA ? ternyata info dari tukang kebun BSD bahwa AN dicurigai oleh SENGKUNI kalau sedang membangun dinasti kekuatan, dan SENGKUNI khawatir dinasti ini akan menyerangnya suatu saat.Cilakanya, penggantinya adalah SS (notabene pernah jadi EVP dan ternyata diduga tidak perform dan diturunkan jadi GM)

d) ERPN (GM SUMBAR) dicopot diduga tidak memberikan data yang diminta oleh SENGKUNI terkait trah dinasti diatas. Berbeda dengan M (GM Aceh) yang bisa memberikan data dinasti akhirnya selamat jabatanya. Berarti M juga termasuk kurawa karena gila jabatan dan takut dicopot . memang jabatan membuat silau.

e) MR (DirSH) mengundurkan diri karena beredar issu mencalonkan menjadi rector ITB. Kenyataanya diduga SENGKUNI memberikan intruksi ke MR untuk segera membuat mou dengan Pertamina dan harus di ttd sebelum pelantikan presiden, namun MR tidak melaksanakan dengan baik.
Pertanyaanya: untuk apa MOU sebelum pelantikan ? Narsistic? Pencitraan SENGKUNI? Kenapa RF (dirutSH) tidak mengundurkan diri atau dicopot? Seharusnya yang tanggung jawab RF

3. Pengelolaan Sindrom Narsistic
Berapa penghargaan yang diterima oleh SENGKUNI? Berapa rupiah sponsorship yang dikelola dan dikeluarkan G (EVP KOM) demi mendapatkan banyak penghargaan tersebut?
Pertanyaanya : jangan jangan G diduga kaki tangan SENGKUNI?
Jangan heran pak KETUM SP, sekarang banyak pejabat kantor pusat yang naik menjadi EVP langsung di kantor Pusat. Bagaimana Nasib para GM dan SRM di pulau2 disana ? kapan mereka mendapatkan promosi ? EVP diisi dari VP kantor Pusat, VP Kantor Pusat diisi dari MSB Kantor Pusat? Pasti kalau Pak KETUM SP peduli sudah pasti tahu permasalahan ini , dan kenapa Pak KETUM SP DIAM SAJA?? Atau sudah nikmat?

4. Bagaimana Netralitas SENGKUNI karena dari Partai Politik?
Kalau kita baca dari berita
https://news.detik.com/berita/d-3019616/kenapa-puan-ingin-darmawan-prasodjo-jadi-penggantinya-di-dpr

https://anekainfounik.wordpress.com/2015/11/19/darmo-bantah-pernah-bertemu-presiden-dan-novanto-bahas-freeport/
ini apakah SENGKUNI masih terafiliasi dengan salah satu partai politik besar di NKRI.

Dengan dugaan afiliasi ini, apakah Keputusan SENGKUNI dalam memimpin PLN ini bisa PROFESIONAL? Misalkan sudah tidak terafiliasi, apakah SENGKUNI bisa NETRAL?

5. Apresiasi kepada SENGKUNI atas kenaikan gaji
Namun ada hal yang saya ucapkan terima kasih karena SENGKUNI memberikan apresiasi kenaikan pendapatan pegawai walaupun maksud dan tujuannya adalah diduga agar pegawai tidak banyak protes atas kebijakan-2 yang sudah dipikirkan oleh SENGKUNI.

Demikian Pak KETUM SP dan para pengurus SP, surat laporan terbuka saya sampaikan. Semua kita semua yang membaca menjadi SADAR kalau PLN adalah tempat kita mencari nafkah untuk istri dan anak anak kita, untuk keluarga kita. Jangan DIAM SAJA kalau PIMPINAN kita DZALIM.

Sementara itu, Darmawan Prasodjo selaku Dirut ketika dikonfirmasi ke nomor WhatsApp pribadinya, hingga kini tak merespons meski ia sudah membaca pesan tersebut. Hal itu dibuktikan dengan centang biru dari pesan yang dikirim tersebut.

Red

PLN ‘Diguncang’ Surat Kaleng, Isyaratkan Sengkuni Sebagai Biang Kekisruhan

JAKARTA.radarinformasi.com –  PT PLN (Persero) yang kini masih di bawah kepemimpinan sang Dirut Darmawan Prasodjo alias Darmo, terus menerus menuai sorotan. Apalagi di balik framing pencitraan lewat berbagai penghargaan yang diraih Darmo, ternyata tersimpan berbagai aib yang kabarnya mulai membuat resah jajaran pegawai. Rabu (23/10)

Permasalahan di perusahaan strum itu semakin santer, menyusul beredarnya surat kaleng pada Rabu, 23 Oktober 2024, dengan pengirim dan penulis anonim, yang ditujukan kepada Ketua Umum Serikat Pekerja (SP) PLN Muhammad Abrar Ali.

Secara garis besar, surat tersebut menjabarkan sejumlah inisial yang diduga pejabat teras PLN yang diistilahkan sebagai Sengkuni (tokoh jahat perwayangan) dan Kurawa, yang tak lain berwatak serupa.

Lantas siapa sosok pejabat yang dimaksud dalam tersebutmelakukan berikut isi surat kaleng tersebut yang dihimpun wartawan secara utuh.

_Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Salam Sejahtera untuk kita semua, Namo Budaye, Salam Kebajikan.._

Yang Saya Banggakan Ketua Umum SP PLN : Uda Abrar dan jajaran pengurus SP PLN Kantor Pusat

Disclaimer :
1. Email atau laporan terbuka ini dikirimkan tidak bermaksud untuk memojokkan atau menjelekkan beberapa pihak atau person dan tidak bermaksud untuk mencemarkan nama baik person.
2. Email atau laporan terbuka ini hanya bersifat DIDUGA/DUGAAN sang penulis dan tidak memfitnah, untuk fakta di lapangan SILAKAN dicari sendiri.
3. Email atau laporan terbuka ini hanya untuk mengingatkan kita semua untuk lebih peduli bahwa PLN adalah tempat kita beramal ibadah, mencari nafkah keluarga kita.
4. Penulis mohon maaf apabila ada ketersinggungan secara person.

PLN adalah sebuah Perusahaan BUMN yang seharusnya dalam pengelolaanya juga harus professional. Sangat bangga sekali dengan jumlah award yang diterima oleh DIRUT PLN, mungkin jumlahnya ratusan. Dan kita tidak tahu berapa biaya (Sponsorship, CSR, dll) yang kemungkinan dikeluarkan demi mendapatkan award ini. Mungkin inilah disebut sindrom narsistic dan semoga ini tidak menjadi wabah.
Abang Ketum SP, melalui laporan terbuka ini saya hanya ingin melaporkan hal-2 sebagai berikut:

1. Pembentukan Sub Holding Pembangkit
Jika kita melihat kebelakang, sebenarnya apa manfaat pembentukan Sub Holding? Toh pengelolaan keuangan ternyata dilakukan terpusat di Holding PLN yang artinya dulu dalam sosialisasi, SH akan lebih lean dalam pengambilan Keputusan, gimana mau Lean ? yang ada justru semua diduga atas instruksi DP (istilah dalam wayang kita sebut saja SENGKUNI). Justru kalau Ketum SP dan pengurusnya peduli, seharusnya dilihat bagaimana pengelolaan ipp yang ternyata Perusahaan swasta dikawinkan dengan Sub Holding. Bahkan metode seperti dulu EPC, justru diduga ditolak oleh DP bahkan murka SENGKUNI jika ada yang masih mengusulkan EPC padahal EPC bernilai positif untuk Perusahaan kita.
Ya semoga KETUM SP terbuka mata hati nya, walupun KETUM SP dan SEKJEND diduga mungkin sering diajak diskusi oleh DP dan DS
2. Arogansi dalam Pengelolaan SDM
Dalam 2 tahun kepemimpinan Sengkuni ini banyak hal-hal yang  tidak wajar dan bukan merupakan mencerminkan kepemimpinan seorang pemimpin di BUMN. Kita mulai dari beberapa waktu yang lalu :

a) RH (Direktur OP BB IP) dicopot karena apa? Banyak orang mengira kalau RH dianggap tidak perfom dan diangkat isunya bersamaan dengan kasus Suralaya yang dianggap memberikan polusi untuk Jakarta. Apakah Ketum SP tahu kalau pencopotannya diduga karena ada perintah SENGKUNI  harus dibeli dari sang penjual (OBP) ini konon kabarnya memilki power dalam pemerintahan, dan masalahnya adalah Batubara yang ternyata low kalori yang tidak sesuai spesifikasi kalori BB. Cilakanya adalah apakah pengganti RH lebih baik? Bahkan H sang pengganti RH adalah DIROPS IP yang dievaluasi atau dicopot karena performance nya

b) MIG (EVP CES) dicopot karena masalah penyajian data pelanggan subsidi. Ternyata data tersebut diduga akan digunakan sebagai salah satu program pencitraan SENGKUNI di depan suksesor dari presiden terpilih. Karena data nya tidak selesai sesuai harapan, padahal penanggung jawab data itu adalah IT loh pak KETUM SP, atau pak KETUM SP belum tahu KSDTI nya juga pilihan SENGKUNI dan EVP MDG nya juga kaki tangan SENGKUNI dari kantor sebelumnya dari Kerajaan KURAWA. SENGKUNI itu kan Paman dari para KURAWA.
Pertanyaannya apakah pengganti MIG (BAP) LEBIH BAIK dari MIG, oh karenaa BAP merupakan kaki tangan SENGKUNI sebelumnya???

c) AM (EVP ODJ) AN (EVP ODS) dicopot diduga tidak memenuhi undangan dari SENGKUNI. Pertannyaanya : AM dan AN menghadiri acara yang ditugaskan oleh AP (Direktur), apakah salah ? seharusnya AP yang bertanggung jawab atau AP diduga sebagai salah satu KURAWA ? ternyata info dari tukang kebun BSD bahwa AN dicurigai oleh SENGKUNI kalau sedang membangun dinasti kekuatan, dan SENGKUNI khawatir dinasti ini akan menyerangnya suatu saat. Celakanya, penggantinya adalah SS (notabene pernah jadi EVP dan ternyata diduga tidak perform dan diturunkan jadi GM)

d) ERPN (GM SUMBAR) dicopot diduga tidak memberikan data yang diminta oleh SENGKUNI terkait trah dinasti diatas. Berbeda dengan M (GM Aceh) yang bisa memberikan data dinasti akhirnya selamat jabatanya. Berarti M juga termasuk kurawa karena gila jabatan dan takut dicopot . memang jabatan membuat silau.

e) MR (DirSH) mengundurkan diri karena beredar issu mencalonkan menjadi rector ITB. Kenyataanya diduga SENGKUNI memberikan intruksi ke MR untuk segera membuat mou dengan Pertamina dan harus di ttd sebelum pelantikan presiden, namun MR tidak melaksanakan dengan baik.
Pertanyaanya: untuk apa MOU sebelum pelantikan ? Narsistic? Pencitraan SENGKUNI? Kenapa RF (dirutSH) tidak mengundurkan diri atau dicopot? Seharusnya yang tanggung jawab RF

3. Pengelolaan Sindrom Narsistic
Berapa penghargaan yang diterima oleh SENGKUNI? Berapa rupiah sponsorship yang dikelola dan dikeluarkan G (EVP KOM) demi mendapatkan banyak penghargaan tersebut?
Pertanyaanya : jangan jangan G diduga kaki tangan SENGKUNI?
Jangan heran pak KETUM SP, sekarang banyak pejabat kantor pusat yang naik menjadi EVP langsung di kantor Pusat. Bagaimana Nasib para GM dan SRM di pulau-pulau disana ? kapan mereka mendapatkan promosi ? EVP diisi dari VP kantor Pusat, VP Kantor Pusat diisi dari MSB Kantor Pusat? Pasti kalau Pak KETUM SP peduli sudah pasti tahu permasalahan ini , dan kenapa Pak KETUM SP DIAM SAJA?? Atau sudah nikmat?

4. Bagaimana Netralitas SENGKUNI karena dari Partai Politik?
Kalau kita baca dari berita
https://news.detik.com/berita/d-3019616/kenapa-puan-ingin-darmawan-prasodjo-jadi-penggantinya-di-dpr

https://anekainfounik.wordpress.com/2015/11/19/darmo-bantah-pernah-bertemu-presiden-dan-novanto-bahas-freeport/
ini apakah SENGKUNI masih terafiliasi dengan salah satu partai politik besar di NKRI.

Dengan dugaan afiliasi ini, apakah Keputusan SENGKUNI dalam memimpin PLN ini bisa PROFESIONAL? Misalkan sudah tidak terafiliasi, apakah SENGKUNI bisa NETRAL?

5. Apresiasi kepada SENGKUNI atas kenaikan gaji
Namun ada hal yang saya ucapkan terima kasih karena SENGKUNI memberikan apresiasi kenaikan pendapatan pegawai walaupun maksud dan tujuannya adalah diduga agar pegawai tidak banyak protes atas kebijakan-kebijakan yang sudah dipikirkan oleh SENGKUNI.

Demikian Pak KETUM SP dan para pengurus SP, surat laporan terbuka saya sampaikan. Semua yang membaca menjadi SADAR kalau PLN adalah tempat kita mencari nafkah untuk istri dan anak anak kita, untuk keluarga kita. Jangan DIAM SAJA kalau PIMPINAN kita DZALIM.

Sementara itu, Darmawan Prasodjo selaku Dirut ketika dikonfirmasi ke nomor WhatsApp pribadinya, hingga kini tak merespons meski ia sudah membaca pesan tersebut. Hal itu dibuktikan dengan centang biru dari pesan yang dikirim tersebut.

Sedangkan Ketua Umum SP PLN M. Abrar Ali, hingga berita ini dinaikkan tak kunjung merespons dan membaca konfirmasi wartawan.

Red