
BOGOR.radarinformasi.com – Kepala Sekolah SMP Negeri 2 Cisarua, Olih Sodikulhikmah, menolak memberikan penjelasan saat dikonfirmasi mengenai penggunaan anggaran Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang mencapai Rp 228 juta.
Dana BOS adalah bantuan dari pemerintah untuk mendukung operasional sekolah, termasuk biaya pembelian alat tulis, kegiatan belajar, dan gaji guru honorer. Pencairan dana ini dilakukan bertahap setiap tahunnya, dengan syarat laporan penggunaan yang harus transparan dan sesuai dengan kebutuhan sekolah. Akan tetapi, tingginya alokasi dana BOS di SMPN 2 Cisarua menjadi sorotan publik.

Bukannya memberikan keterangan secara transparan, pihak kepala sekolah justru diduga menggunakan sekelompok orang yang terlihat seperti preman untuk menghadang awak media yang berusaha meminta penjelasan di sekolah. Hal tersebut terlihat dari video yang beredar saat awak media sedang melakukan konfirmasi.
Saat dikonfirmasi oleh awak media, Olih Sodikulhikmah menampik praduga dari awak media dengan statement yang menohok. “Saya mantan kepala sekolah diluar negeri, jadi mana mungkin saya korupsi,” tegasnya.

Selain itu, aksi arogansi juga diperlihatkan Olih Sodikulhikmah dengan melibatkan orang-orang yang diduga preman, sehingga menimbulkan situasi yang tidak kondusif saat awak media menggali informasi terkait Dana BOS tersebut. Seharusnya, sekolah sebagai institusi pendidikan mengedepankan etika dan transparansi, bukan malah menunjukkan tindakan intimidatif yang terkesan arogan.
Kami selaku kontrol sosial sangat menyayangkan sikap kepala sekolah ini, dan berharap agar dinas pendidikan serta pihak terkait turut turun tangan untuk memastikan transparansi penggunaan dana BOS. Kami menilai bahwa tindakan kepala sekolah tidak hanya merusak citra institusi pendidikan, namun juga melanggar etika yang seharusnya dijunjung tinggi di lingkungan sekolah.
Red
