Tradisi Mapag Sri di Desa Tawangsari, Wujud Syukur Panen dan Pelestarian Budaya Indramayu

INDRAMAYU – radarinformasi.com – Suasana Desa Tawangsari, Kecamatan Arahan, Kabupaten Indramayu, dipenuhi nuansa budaya dan kebersamaan saat ratusan warga mengikuti tradisi Mapag Sri. Tradisi turun-temurun tersebut digelar sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil panen padi sekaligus upaya melestarikan warisan budaya masyarakat agraris Indramayu. Rabu (1/7/2026)
Mapag Sri, yang secara harfiah berarti “menjemput Dewi Sri” sebagai simbol kesuburan dan kemakmuran, menjadi salah satu tradisi yang masih terus dijaga masyarakat. Puncak acara ditandai dengan kirab hasil bumi, tumpeng robyong, serta pagelaran wayang kulit dengan lakon Dewi Sri.
Kuwu Desa Tawangsari, Eva Rosyani, mengatakan tradisi ini bukan sekadar perayaan panen, tetapi juga menjadi sarana memperkuat nilai-nilai kebersamaan, rasa syukur, dan pelestarian budaya bagi generasi penerus.
“Mapag Sri ini bukan sekadar pesta panen. Ini doa kita kepada Allah SWT agar panen tahun depan lebih baik lagi. Sekaligus mengingatkan anak cucu agar tetap mengenal dan mencintai adat istiadat masyarakat Indramayu,” ujarnya.
Rangkaian kegiatan diawali dengan kirab gunungan hasil bumi dari area persawahan menuju Balai Desa. Warga membawa berbagai hasil pertanian seperti padi, ketan, buah-buahan, dan sayuran yang diiringi kesenian tarling serta kentrung. Setelah doa bersama, hasil bumi tersebut dibagikan kepada masyarakat sebagai simbol rasa syukur dan kebersamaan.
Ketua Panitia Mapag Sri, Tarkim, yang juga menjabat sebagai Raksa Desa, menjelaskan bahwa generasi muda dilibatkan secara aktif dalam seluruh rangkaian kegiatan.
“Anak-anak mulai dari tingkat SD hingga Karang Taruna kami libatkan sebagai penari, penabuh kendang, maupun pembawa gunungan. Harapannya, tradisi ini tetap lestari dan tidak tergerus perkembangan zaman,” katanya.
Antusiasme masyarakat terlihat tinggi. Salah seorang warga, Rohaya (55), mengaku sengaja pulang dari Jakarta untuk mengikuti tradisi yang telah menjadi bagian dari kenangan masa kecilnya.
“Saya rindu suasana kampung. Dulu waktu kecil sering diajak orang tua mengikuti Mapag Sri. Sekarang cucu saya juga bisa ikut merasakan tradisi ini,” tuturnya.
Budayawan Indramayu, Darpan, turut mengapresiasi konsistensi masyarakat Desa Tawangsari dalam menjaga tradisi lokal. Menurutnya, Mapag Sri merupakan warisan budaya yang memiliki nilai luhur dan patut terus dilestarikan.
“Di tengah perkembangan teknologi dan media sosial, masih ada desa yang tetap menjaga tradisi seperti ini. Tawangsari layak menjadi contoh desa yang berhasil melestarikan budaya lokal,” ujarnya.
Pemerintah Desa Tawangsari berkomitmen menjadikan Mapag Sri sebagai agenda budaya tahunan sekaligus mendorongnya menjadi salah satu daya tarik wisata budaya di Kabupaten Indramayu.
“Kami berharap ke depan Mapag Sri semakin dikenal luas. Rencananya tahun depan kami akan berkolaborasi dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata agar tradisi ini dapat menjadi ikon wisata budaya Indramayu,” pungkas Eva Rosyani.
Reporter : Andika
