Teknologi CAS Polindra Perpanjang Masa Simpan Mangga hingga 25 Hari

INDRAMAYU.radarinformasi.com – Tim dosen Politeknik Negeri Indramayu (Polindra) dari Kelompok Bidang Keahlian (KBK) Program Studi Teknik Pendingin dan Tata Udara (TPTU) mengembangkan teknologi Controlled Atmosphere Storage (CAS) untuk memperpanjang masa simpan buah mangga. Inovasi ini ditujukan sebagai solusi pascapanen agar komoditas unggulan daerah tersebut lebih tahan lama dan bernilai jual lebih tinggi.

Ketua tim peneliti, AA Setiawan S.T., M.T., menjelaskan bahwa penelitian telah rampung dan siap untuk tahap pengembangan lanjutan di masyarakat. Pernyataan itu disampaikan kepada awak media pada Selasa (14/4/2026) di lingkungan kampus Polindra.

Menurutnya, teknologi CAS bekerja dengan mengatur komposisi gas di dalam ruang penyimpanan. Mesin tersebut menurunkan kadar oksigen (O₂) hingga sekitar 1–3 persen, meningkatkan nitrogen (N₂), serta menambah kadar karbon dioksida (CO₂) hingga sekitar 10 persen. Kondisi ini mampu memperlambat proses pematangan dan pembusukan buah.

“Tanpa perlakuan khusus, mangga umumnya hanya bertahan 7 hingga 10 hari sebelum membusuk. Dengan teknologi CAS, masa simpannya bisa diperpanjang hingga sekitar 25 hari,” ujarnya.

Ia menambahkan, sistem CAS diimplementasikan dalam ruang pendingin atau lemari pendingin yang telah dimodifikasi. Pengaturan atmosfer tersebut menjadi kunci utama dalam menjaga kualitas buah selama penyimpanan.

Penelitian ini melibatkan lima dosen dari Prodi TPTU Polindra serta mahasiswa tingkat akhir yang menjadikannya sebagai proyek tugas akhir dengan fokus pada perancangan dan pembuatan mesin CAS.

Dari sisi pendanaan, riset ini didukung melalui hibah internal Polindra yang dikelola oleh Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (P3M) pada tahun anggaran 2025. Pengembangan lanjutan direncanakan berlangsung pada 2026 dengan penyempurnaan teknologi dan peningkatan kapasitas alat.

Ke depan, tim peneliti berencana mendorong penerapan teknologi ini di masyarakat melalui program pengabdian serta menjalin kemitraan dengan pihak industri. Hal tersebut dinilai penting mengingat Indramayu dikenal sebagai salah satu sentra produksi mangga di Indonesia.

“Harapannya, teknologi ini bisa diadopsi dan dikembangkan hingga skala lebih besar, sehingga memberi manfaat ekonomi yang nyata bagi masyarakat,” tutupnya.

Reporter : Andika

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *