Tiga Tahun Mengidap Penyakit Langka, Jeritan Sunyi Orang Tua di Indramayu Menanti Uluran Tangan

INDRAMAYU.radarinformasi.com – Di sebuah gang sempit di wilayah Karangampel, Indramayu, harapan dan kesedihan bergulat dalam diam. Selama lebih dari tiga tahun, sepasang suami istri, Nursiti (35) dan Asandi, hidup dalam kecemasan mendalam. Anak kedua mereka menderita kondisi langka: sindaktili dan polidaktili kompleks penyakit bawaan yang menyatukan jari-jari dan menumbuhkan jari tambahan secara abnormal, memengaruhi jaringan lunak dan tulang secara signifikan.
“Sudah tiga tahun anak saya mengalami ini,” lirih Nursiti, saat ditemui Minggu (1/6). Matanya menyimpan letih, tapi masih menyisakan harapan. Ia mengaku ingin membawa anaknya berobat ke RS Hasan Sadikin Bandung. Namun, keterbatasan biaya menjadi tembok tinggi yang belum mampu mereka lewati. “Bukan cuma biaya rumah sakit, tapi juga ongkos transportasi yang berat bagi kami,” tuturnya.
Asandi, sang suami, hanya bisa mengangguk pasrah. Sebagai buruh serabutan, penghasilannya tak cukup untuk menopang kebutuhan keluarga, apalagi untuk biaya medis yang terbilang mahal. “Saya sudah pasrah. Hanya bisa berharap ada keajaiban,” katanya perlahan.
Meski dililit keterbatasan, pasangan ini enggan menyerah sepenuhnya. “Kami masih menanti keajaiban dari orang-orang baik hati yang mau membantu,” tambah Nursiti, suaranya menggetar oleh harap.
Penyakit yang dialami buah hati mereka memang tidak tergolong mematikan. Namun, dampaknya sangat besar terhadap tumbuh kembang dan kualitas hidup anak. Satu-satunya jalan adalah operasi rekonstruksi, yang sayangnya, tak bisa mereka jangkau sendiri.
Kisah ini bukan sekadar derita satu keluarga, melainkan potret nyata ketimpangan akses kesehatan yang masih terjadi. Di tengah kesibukan dunia, suara lirih dari gang sempit Karangampel ini mengetuk nurani kita semua.
Apakah akan ada tangan-tangan yang terulur untuk mereka? Bagi keluarga ini, bantuan sekecil apa pun bisa menjadi cahaya dalam gelap, membuka jalan menuju masa depan yang lebih layak bagi sang buah hati yang kini terkurung dalam tubuh yang tak sempurna.
Reporter : Andika
Redaktur : Rizal
