Bantuan Sapi untuk KTD Pasundan Berkah Jaya dalam sebulan 3 Ekor Raib dari Kandang
BOGOR.radarinformasi.com – Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPPT) dan DPR RI khususnya komisi IV, telah menyerahkan bantuan kepada para kelompok tani yang berada di wilayah Kota Bogor-Jawa Barat, salahsatu penerima bantuan sapi tersebut adalah Kelompok Tani Dewasa (KTD) Pasundan Berkah Jaya yang beralamat di Kelurahan Muarasari, Kecamatan Bogor Selatan, Minggu 30/01/21.
20 Sapi Bantuan yang diterima oleh KTD Pasundan Berkah Jaya tersebut hingga saat ini telah berkurang dan hanya tersisa 17 sapi, karena menurut Muhidin 3 ekor sapi yang Ia pelihara telah dipotong dan dagingnya dijual karena sapi tersebut sakit.
Namun ada yang janggal, karena proses pemotongan sapi tidak diketahui oleh pihak Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP), pihak dinas mengetahui setelah sapi dipotong dan dagingnya diperjual belikan, hal tersebut berbeda dengan apa yang diucapkan oleh Muhidin Ketua (PJS) KTD Pasundan Berkah Jaya.
Saat ditemui dikediamannya Muhidin mengatakan bahwa, “Untuk saat ini sapi di kandang saya ada 11 ekor sapi, 6 berada di kandang anggota dan 3 ekor lagi disembelih karena sakit”.
“Sebenarnya saya bukan ketua KTD, tapi hanya meneruskan karena Ketua Kelompok meninggal beberapa hari yang lalu, waktu itu setelah sapi sakit kemudian di visum, lalu dilakukan pengobatan, akan tetapi karena kondisinya tidak membaik dan takut mati akhirnya para medis dari pihak dinas membawa sapi tersebut untuk di potong, dinas yang motong, dinas juga yang menjual, untuk satu sapi saya dikasih uang sebesar Rp 3.000.000,00 jadi semua yang saya terima sebesar Rp.9.000.000,00”, ujar Muhidin.
Masih menurutnya, “Hingga saat ini uang masih saya pegang karena uang Rp 9.000.000,00 tidak akan cukup untuk membeli sapi lagi”.
Terkait 6 sapi yang dititipkan kepada anggota KTD, Muhidin berkesan ogah-ogahan saat tim media berusaha mengkroscek keberadaan sapi tersebut.
Sementara itu H.Anas Raswana Kadis DKPP saat ditemui diruangannya memaparkan bahwa, “Sapi di potong oleh Ketua TKD sendiri bukan sama orang dinas, bahkan Ketua KTD memberikan laporan sapi dipotong setelah sapi ga ada ya, bukan sebelum pemotongan”.
Begitu juga yang dituturkan oleh dokter hewan yang berada di DKPP, Ia menjelaskan bahwa Ia sebagai dokter hewan yang bertugas-pun tidak mengetahui akan hal tersebut, tidak ada laporan bahwa sapi sakit atau koordinasi dan sebagainya”.
Sementara itu Hendrik selaku tim para medis, yang turun ke lapangan sebagai team yang mengidentifikasi sapi tersebut mengalami sakit BF, akan tetapi para medis tidak dapat memperlihatkan hasil visum, hanya menerka-nerka bahwa sapi tersebut sakit BF atau ngorok. Sangat jelas disini ada kejanggalan-kejanggalan dan dugaan penyalahguanaan bantuan yang telah diterima.
Red

















