Kadis PUPR Kembali Bungkam: Sorotan Menguat Usai Temuan Retakan di Proyek Irigasi Caringin

BOGOR.radarinformasi.com – Sorotan terhadap Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Bogor kembali menguat setelah Kepala Dinas PUPR, Suryanto, tak memberikan respons atas temuan keretakan di proyek Rehabilitasi Fungsi Jaringan Irigasi D.I. Ciderum, Kecamatan Caringin. Sikap bungkam ini menambah panjang daftar persoalan PUPR yang tak kunjung mendapat klarifikasi dari sang kadis.

Proyek bernilai Rp429.180.000 tersebut menuai kritik setelah awak media menemukan keretakan pada Tembok Penahan Tanah (TPT), padahal pembangunan masih berjalan. Selain itu, tidak ditemukannya Rencana Anggaran Biaya (RAB) dan gambar teknis di lokasi memperkuat dugaan minimnya transparansi dalam pelaksanaan proyek.

Sayangnya, upaya konfirmasi kepada Kadis PUPR Suryanto justru lagi-lagi tak membuahkan hasil. Sejumlah awak media yang menghubunginya berulang kali tidak pernah mendapatkan jawaban. Bahkan beberapa jurnalis mengaku nomor mereka diblokir setelah mencoba meminta penjelasan. Fenomena bungkam ini bukan pertama kali terjadi, sebab dalam sejumlah persoalan PUPR sebelumnya, Suryanto juga diketahui kerap tidak memberikan tanggapan meski masalah menyangkut kepentingan publik.

Hingga berita ini diterbitkan, pihak kontraktor utama, Rizal, belum menyampaikan keterangan resmi. Masyarakat menilai diamnya Kadis PUPR hanya memperburuk persepsi publik terhadap transparansi dan pengawasan proyek di Kabupaten Bogor. Warga pun mendesak agar pemerintah daerah mengambil langkah tegas dan memastikan setiap persoalan PUPR mendapat penanganan terbuka, bukan dibiarkan tanpa penjelasan.

Dewi

Polemik Proyek Irigasi di Caringin: Pembangunan Belum Rampung Namun Sudah Ada Keretakan

BOGOR.radarinformasi.com – Proyek Rehabilitasi Fungsi Jaringan Irigasi D.I. Ciderum di Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor, kembali menuai kritik tajam setelah awak media menemukan sejumlah kejanggalan saat melakukan kontrol sosial di lokasi pekerjaan. Salah satu temuan yang paling mencolok adalah Tembok Penahan Tanah (TPT) yang sudah mengalami keretakan, padahal proyek tersebut masih berjalan dan belum memasuki tahap penyelesaian. Senin (17/11/2025)

Proyek dengan anggaran Rp429.180.000 ini dikerjakan oleh PT Joskrindo Hutama Sinergy dengan pengawasan PT Gumilang Sajati, dan memiliki waktu pengerjaan 90 hari kalender. Namun, fakta di lapangan menimbulkan tanda tanya besar mengenai kualitas konstruksi dan transparansi proyek.

Awak media tidak hanya menemukan retakan pada TPT, tetapi juga mencatat tidak adanya Rencana Anggaran Biaya (RAB) dan gambar perencanaan (rancangan teknis) yang biasanya dipasang untuk memastikan keterbukaan informasi publik. Ketidakhadiran dokumen-dokumen tersebut memperkuat dugaan minimnya transparansi dan potensi pelaksanaan pekerjaan yang tidak sesuai spesifikasi.

Ketika dikonfirmasi, salah satu pelaksana proyek, Asep, memberikan pengakuan mengejutkan. Ia menjelaskan bahwa keretakan terjadi karena TPT tersebut merupakan pekerjaan pemborong lama dan bagian yang dikerjakan saat ini hanyalah sambungan dari konstruksi sebelumnya.

“TPT itu kan pemborong lama yang buat, ini sambungan. Jadi kami hanya memperbarui bagian yang kurang, bukan dibongkar dan dibuat baru,” ujar Asep dengan terbata-bata.

Selain retakan, awak media juga menemukan genangan air di sekitar pondasi awal yang dikhawatirkan dapat melemahkan struktur bangunan. Pemasangan pondasi pada kondisi tanah basah sangat berisiko menyebabkan retakan dini serta mengurangi kekuatan konstruksi secara keseluruhan.

Fakta-fakta tersebut menimbulkan pertanyaan serius: mengapa proyek dengan nilai hampir setengah miliar rupiah justru hanya melakukan tambal-sulam, bukan rehabilitasi total? Padahal tujuan rehabilitasi adalah memperbaiki keseluruhan struktur agar kembali berfungsi maksimal, bukan memperbarui bagian tertentu saja.

Kondisi ini memicu kekhawatiran masyarakat bahwa proyek dilakukan dengan pola asal jadi, tanpa memastikan standar teknis terpenuhi dan tanpa dokumentasi perencanaan yang dapat dipertanggungjawabkan.

Hingga berita ini diterbitkan, Rizal(pihak kontraktor) belum memberikan keterangan resmi terkait rangkaian temuan tersebut meskipun awak media sudah mencoba untuk berkomunikasi.

Masyarakat berharap pemerintah daerah segera turun tangan untuk melakukan evaluasi menyeluruh agar potensi kerugian anggaran dan kegagalan konstruksi dapat dicegah.

Dewi

PUPR Kabupaten Bogor Realisasikan Program Penyelenggaraan Jalan Tajurhalang Cijeruk

BOGOR.radarinformasi.com – Pemerintah Kabupaten Bogor melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang realisasikan anggaran jalan kota dan kabupaten Bogor, dengan pembuatan Tembok Penahan Tanah (TPT) di Kp. Palasari hilir, Desa Tajurhalang, Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor-Jawa Barat, Senin (09/10/2023).

Pengerjaan tersebut guna memperlancar pergerakan sarana dan jasa dengan besar anggaran Rp. 1.597.200.000.000,00 dimana pengerjaan mulai dilaksanakan pada 30 Agustus 2023 dan berlangsung selama 120 hari kalender.

Proyek dipercayakan kepada CV. Nicala Gevira selaku penyedi barang dan jasa sementara untuk konsultan pengawas oleh PT. Demensi Ronakon.

“Saya selaku perwakilan pak Budi yang bertanggungjawab atas pengerjaan proyek ini tentunya ingin berhubungan baik dengan semua pihak diwilayah ini baik dengan pihak pemerintah setempat, APH, warga maupun dengan para Awak Media yang juga tentunya ingin bersilaturahmi dengan kami”, ucap H. Abud

“Sejauh ini kendala yang kami rasakan dalam pengerjaan hanyalah akses jalan menuju pengerjaan yang posisinya di bawah jurang yang cukup tinggi seperti ini dengan akses jalan yang kami buat sendiri karena awalnya memang tidak ada akses jalan kebawah sini, karena kami sulit untuk menurunkan material apa lagi alat berat sehingga semua pengerjaan terpaksa kami kerjakan secara manual kecuali untuk pengecoran nanti akan kami buatkan semacam alat untuk menurunkan coran kebawah”, pungkasnya.

Sementara Fikri Nugraha selaku Konsultan Pengawas yang saat itu tengah melakukan pengecekan terkait adanya laporan prihal kesulitan dalam penggalian juga mengatakan bahwa sejauh ini belum ada kendala yang cukup berarti selain akses jalan dan keterbatasan alat berat sehingga semua terpaksa di kerjakan secara manual.

“Sejauh ini memang belum ada kendala lain yang cukup berat selain akses jalan dan keterbatasan alat berat sehingga semua terpaksa kami lakukan secara manual, kecuali nanti untuk corannya yah, tentunya kami berharap tidak ada kendala lain sampai pengerjaan selesai juga semoga cuaca masih bisa stabil karena jika diberi curah hujan deras yang lama tentunya akan banyak menghambat pengerjaan kami”, ucapnya.

Reporter : Dahlia
Redaktur : Dewi