Mapag Sri, Tradisi Syukur Panen yang Tetap Hidup di Tengah Arus Zaman

INDRAMAYU.radarinformasi.com – Ratusan warga Desa Mekarwaru, Kecamatan Gantar, Kabupaten Indramayu, tumpah ruah di halaman kantor desa pada Kamis (10/4/2025), dalam perayaan adat Mapag Sri. Tradisi ini menjadi simbol syukur masyarakat tani atas panen yang melimpah sekaligus bentuk nyata pelestarian budaya warisan leluhur. Sabtu (12/4)

Ritual Mapag Sri bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan bagian dari identitas kolektif masyarakat Mekarwaru yang menjunjung tinggi kebersamaan serta rasa hormat kepada alam. Doa-doa sakral dipanjatkan dalam prosesi adat yang dipimpin para sesepuh, diiringi sajian seni tradisional seperti pertunjukan wayang kulit, tari daerah, dan gamelan.

Kepala Desa Mekarwaru, Edi Sukandi, SE, menegaskan pentingnya merawat tradisi sebagai wujud rasa syukur sekaligus perlawanan terhadap lunturnya nilai-nilai lokal. “Melalui Mapag Sri, kami berusaha menjaga warisan budaya agar tetap hidup dan relevan di tengah perubahan zaman,” ujarnya disambut antusiasme warga.

Tidak hanya warga biasa, perayaan ini juga melibatkan tokoh adat, tokoh agama, aparat desa, serta generasi muda. Keterlibatan anak-anak sekolah, pemuda karang taruna, dan ibu-ibu PKK memberi warna tersendiri pada acara yang berlangsung hangat dan khidmat.

Mapag Sri menjadi panggung kebudayaan yang inklusif, tempat di mana ekspresi seni dan spiritualitas berpadu. Di sisi lain, kehadiran para petani sebagai pelaku utama produksi pangan mendapat apresiasi tinggi atas dedikasi mereka menjaga ketahanan pangan desa.

Di tengah gempuran arus globalisasi, Desa Mekarwaru membuktikan bahwa modernitas tak harus menenggelamkan akar budaya. Tradisi Mapag Sri justru tampil sebagai simbol ketahanan identitas dan sumber inspirasi lintas generasi. Budaya bukan sekadar kenangan masa lalu, melainkan kekayaan hidup yang terus menyala di hati masyarakat.

Reporter : Andika
Redaktur : Rizal

Gunakan Bahasa Daerah 1 kali dalam Sebulan, Cara Lapas Indramayu Lestarikan Nilai Budaya & Kearifan Lokal

Gunakan Bahasa Daerah 1 kali dalam Sebulan, Cara Lapas Indramayu Lestarikan Nilai Budaya & Kearifan Lokal

INDRAMAYU.radarinformasi.com – Seluruh Pejabat Struktural dan Pegawai Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Indramayu menggelar Apel Pencanangan Pelestarian Nilai Budaya dan Kearifan Lokal, Selasa (07/02/2023), di Lapangan setempat.

Karena digelar dalam rangka melestarikan nilai-nilai budaya dan kearifan lokal, maka seluruh Pejabat dan Pegawai Lapas menggunakan pakaian daerah Indramayu, yaitu Komboran beserta ikat kepala. Sedangkan yang wanita mengenakan kebaya.

Tak hanya itu, Kepala Lapas Kelas IIB Indramayu, Beni Hidayat menyampaikan bahwa kedepan, setiap hari Selasa pada awal bulan diterapkan penggunaan bahasa daerah di lingkungan Lapas.

“Kami akan menerapkan penggunaan bahasa daerah Indramayu di lingkungan Lapas serta dalam pelaksanaan pelayanan kunjungan,” tuturnya.

Bahkan, masih dikatakan Beni, untuk mengimplementasikan nilai-nilai budaya dan kearifan lokal, Lapas Indramayu juga akan melakukan pelatihanln seni daerah seperti Gamelan, Tari, dan lain sebagainya.

Pencanangan Pelestarian Nilai-Nilai Budaya dan Kearifan Lokal ini dilakukan berdasarkan arahan dari Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham) Jawa Barat.

Reporter : Slamet H
Redaktur : Dewi P