Menelusuri Lebih Jauh May Day: Sejarah dan Makna Hari Buruh Internasional

BOGOR.radarinformasi.com – Setiap tanggal 1 Mei, berbagai negara di dunia memperingati Hari Buruh Internasional atau yang dikenal sebagai May Day. Di Indonesia, peringatan ini tidak hanya menjadi hari libur nasional, tetapi juga momentum penting bagi para pekerja untuk menyuarakan aspirasi mereka.

Sejarah May Day berakar dari perjuangan buruh di Chicago pada tahun 1886. Saat itu, ribuan pekerja melakukan aksi besar-besaran menuntut pengurangan jam kerja menjadi delapan jam sehari. Aksi tersebut memuncak dalam peristiwa yang dikenal sebagai Haymarket Affair, yang kemudian menjadi simbol perjuangan hak-hak pekerja di seluruh dunia.

Peringatan 1 Mei kemudian diadopsi secara internasional sebagai Hari Buruh, termasuk di Indonesia. Pada masa kolonial Hindia Belanda, peringatan ini sudah mulai dilakukan oleh kelompok buruh sebagai bentuk solidaritas global. Namun, pada era Orde Baru, peringatan May Day sempat dilarang karena dianggap berkaitan dengan ideologi tertentu.

Setelah memasuki era reformasi, kebebasan untuk memperingati Hari Buruh kembali terbuka. Puncaknya, pada tahun 2013, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menetapkan 1 Mei sebagai hari libur nasional di Indonesia.

Kini, May Day tidak hanya diperingati sebagai hari bersejarah, tetapi juga menjadi ajang bagi pekerja untuk menyampaikan tuntutan, seperti peningkatan kesejahteraan, perlindungan tenaga kerja, serta kondisi kerja yang lebih layak. Di berbagai kota, aksi unjuk rasa hingga kegiatan sosial kerap mewarnai peringatan ini.

Dengan memahami sejarah May Day, masyarakat diharapkan dapat melihat bahwa hari ini bukan sekadar tanggal merah, melainkan simbol perjuangan panjang untuk keadilan dan hak-hak pekerja.

Red

May Day dan Mayday: Dua Istilah Serupa, Makna Sangat Berbeda

Memahami sejarah perjuangan buruh dan sinyal darurat internasional yang sering disalahartikan.

BOGOR.radarinformasi.com – Setiap tanggal 1 Mei, berbagai daerah di Indonesia dan dunia diramaikan oleh aksi turun ke jalan, orasi massa buruh, hingga spanduk berisi tuntutan kesejahteraan. Hari ini dikenal sebagai May Day atau Hari Buruh Internasional, sebuah simbol perjuangan kelas pekerja.

Namun, di sisi lain, masyarakat kerap mendengar istilah Mayday yang terdengar serupa, tetapi ternyata memiliki makna yang sangat berbeda. Apa sebenarnya perbedaan antara keduanya?

Akar Sejarah May Day: Perjuangan Panjang Kaum Buruh

May Day berakar dari perjuangan buruh di Amerika Serikat pada tahun 1880-an. Kala itu, para pekerja menghadapi kondisi kerja yang tidak manusiawi, jam kerja panjang antara 12–16 jam per hari, dengan upah minim dan tanpa perlindungan keselamatan.

Puncaknya terjadi pada 1 Mei 1886, saat sekitar 300 ribu buruh di seluruh Amerika Serikat melakukan mogok kerja besar-besaran untuk menuntut jam kerja 8 jam per hari. Di Chicago, aksi ini berakhir tragis dengan Insiden Haymarket, ledakan bom dan bentrokan antara polisi dan demonstran yang menewaskan sejumlah orang.

Sebagai bentuk penghormatan atas perjuangan tersebut, The International Socialist Congress menetapkan 1 Mei sebagai Hari Buruh Internasional pada tahun 1889. Sejak itu, May Day diperingati di berbagai negara sebagai simbol solidaritas buruh dunia.

May Day di Indonesia: Dari Pengakuan hingga Penghapusan dan Kembali Diakui

Indonesia mengenal May Day sejak masa kolonial. Namun secara resmi, Presiden Soekarno pada tahun 1948 menetapkan 1 Mei sebagai Hari Buruh Nasional, disertai dengan hak libur bagi para pekerja melalui Undang-Undang Kerja Nomor 12 Tahun 1948.

Namun, pasca peristiwa G30S/PKI tahun 1965, Hari Buruh dihapuskan dari daftar hari libur nasional. Pemerintah Orde Baru bahkan mencurigai peringatan May Day sebagai gerakan berbau subversif.

Baru setelah era reformasi, peringatan May Day kembali digelar secara terbuka. Pada 1 Mei 2013, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menandatangani Keppres Nomor 24 Tahun 2013 yang menetapkan kembali 1 Mei sebagai hari libur nasional.

Mayday: Sinyal Darurat Global di Dunia Udara dan Laut

Di luar konteks perjuangan buruh, istilah Mayday adalah sinyal darurat internasional dalam komunikasi radio, terutama di bidang penerbangan dan pelayaran.

Kata ini berasal dari bahasa Prancis “M’aidez” yang berarti “tolong saya.” Pertama kali diperkenalkan pada tahun 1923 di Inggris, Mayday dipilih karena mudah diucapkan dan dikenali dalam komunikasi suara antar operator radio di situasi krisis.

Saat situasi sangat darurat seperti kecelakaan pesawat atau kapal, petugas akan mengucapkan “Mayday, Mayday, Mayday” untuk meminta bantuan segera.

Dua Kata, Dua Dunia, Dua Makna Penting

Meski terdengar serupa, May Day dan Mayday memiliki arti yang sangat berbeda. May Day adalah peringatan dan penghormatan atas perjuangan hak-hak buruh. Sementara Mayday adalah seruan minta tolong dalam kondisi darurat.

Keduanya mengingatkan kita pada nilai penting perjuangan, keselamatan, dan solidaritas, baik dalam konteks sosial maupun kemanusiaan.

Rizal