Pengamat : PGRI dan Dinas Pendidikan Dinilai Abai, Kekerasan Oknum Guru Terhadap Murid Kembali Terjadi

MELAWI KALBAR.radarinformasi.comn-Dunia pendidikan kembali tercoreng dengan kasus kekerasan yang dilakukan oleh oknum guru terhadap muridnya di wilayah Desa Manggala  Kecamatan Pinoh selatan Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat pada 31 Januari 2025 hingga viral video nya dan viral dibeberapa media online nasional serta lokal. Senin (10/2)

Peristiwa ini menuai kecaman dari berbagai pihak  terutama dari pengamat kebijakan publik Dr Herman Hofi Munawar saat memberikan keterangan pers nya pada awak media pada hari Minggu  9 Febuari 2025 lalu.

Terang Herman Hofi Munawar kejadian ini jelas  bertentangan dengan prinsip pendidikan yang berorientasi pada pembentukan karakter anak bangsa.

Fenomena ini juga menyoroti lemahnya pengawasan terhadap tenaga pendidik serta minimnya pembinaan yang dilakukan oleh organisasi profesi seperti Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) dan Dinas Pendidikan setempat.

Kasus kekerasan di lingkungan sekolah bukanlah hal baru. Berulangnya kejadian ini menunjukkan bahwa sistem pengawasan terhadap tenaga pendidik masih belum berjalan optimal perlindungan terhadap anak anak didik sangat lah lemah di setiap lingkungan sekolah.

“PGRI, sebagai organisasi profesi guru, diharapkan memiliki peran dalam memberikan pembinaan kepada anggotanya. Namun, lemahnya implementasi program pembinaan serta kurangnya evaluasi berkala terhadap para pendidik membuat kasus kekerasan terus terjadi dan berulang kembali,” terang Herman Hofi Munawar.

Di sisi lain, pemerintah daerah melalui Dinas Pendidikan seharusnya lebih proaktif dalam melakukan penguatan mental dan spiritual bagi para guru. Guru bukan hanya bertugas mentransfer ilmu, tetapi juga menjadi panutan bagi siswa dan masyarakat. Konsep Wawasan Wiyata Mandala, yang menekankan pentingnya lingkungan pendidikan yang harmonis, kini seolah menghilang tanpa arah yang jelas.

Dr. Herman Hofi Law mengungkapkan bahwa pengamat kebijakan publik, menilai bahwa lemahnya pengawasan terhadap tenaga pendidik berkontribusi pada meningkatnya kasus kekerasan di sekolah.

“Seharusnya ada sistem pengawasan yang lebih ketat dan mekanisme pembinaan yang jelas terhadap tenaga pendidik. Kasus kekerasan yang dilakukan oleh oknum guru bukan hanya merusak citra dunia pendidikan, tetapi juga berpotensi menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap institusi pendidikan saat ini sebab masih banyak oknum guru yang bertindak seakan akan malaikat pencabut nyawa terhadap murid,” ucapnya.

Tindakan kekerasan atau penganiayaan yang dilakukan oleh oknum guru terhadap muridnya memiliki konsekuensi hukum yang tegas. Dalam aspek pidana, guru yang melakukan kekerasan dapat dijerat dengan beberapa ketentuan perundang-undangan, antara lain:

Pasal 80 UU No. 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak, yang menyatakan bahwa kekerasan terhadap anak merupakan tindak pidana dengan ancaman hukuman penjara.
Pasal 170 KUHP, yang mengatur tentang kekerasan terhadap orang lain, termasuk yang dilakukan oleh guru terhadap muridnya.

Selain hukum pidana, kekerasan di lingkungan sekolah juga melanggar hak-hak siswa sebagaimana diatur dalam:
Pasal 12 UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yang menjamin hak siswa untuk mendapatkan pendidikan yang aman dan nyaman.
Pasal 4 UU No. 35 Tahun 2014, yang menegaskan hak anak untuk mendapatkan perlindungan dari kekerasan.

Dalam ranah hukum administratif, tindakan kekerasan oleh oknum guru juga melanggar ketentuan berikut:
Peraturan Pemerintah No. 17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan.
Permendikbud No. 82 Tahun 2014 tentang Pencegahan dan Penanggulangan Kekerasan di Lingkungan Pendidikan.

Oknum guru yang terbukti melakukan kekerasan dapat dikenakan berbagai sanksi, mulai dari pidana penjara atau denda, pemberhentian dari jabatan sebagai guru, pencabutan izin mengajar, hingga sanksi administratif lainnya yang ditetapkan oleh instansi terkait.

Selain itu, korban kekerasan juga berhak menuntut kompensasi atau ganti rugi kepada oknum guru atau lembaga pendidikan yang bertanggung jawab atas insiden tersebut.

Dr. Herman Hofi Law juga menegaskan bahwa PGRI dan Dinas Pendidikan harus mengambil langkah konkret dalam menanggulangi kasus kekerasan oleh oknum guru. Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:

Setiap guru wajib mengikuti pelatihan berkala terkait etika dan psikologi anak, agar mereka dapat memahami batasan dalam berinteraksi dengan siswa.

Dinas Pendidikan harus memperketat pengawasan terhadap tenaga pendidik, termasuk memberikan sanksi bagi oknum guru yang terbukti melakukan kekerasan.

Sekolah harus kembali menghidupkan nilai-nilai Wawasan Wiyata Mandala, yang menekankan pentingnya peran guru dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman dan harmonis.

Pendidikan bukan hanya tanggung jawab sekolah, tetapi juga melibatkan orang tua dan masyarakat dalam mengawasi serta melaporkan jika terjadi tindakan kekerasan di sekolah.

Kasus kekerasan yang dilakukan oleh oknum guru terhadap murid menjadi refleksi buram dunia pendidikan di Indonesia, termasuk di Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat. Jika pembinaan dan pengawasan terhadap tenaga pendidik tidak segera diperbaiki, maka kejadian serupa akan terus berulang.

PGRI dan Dinas Pendidikan harus menunjukkan komitmennya dalam melindungi hak-hak siswa serta meningkatkan kualitas tenaga pendidik. Pemerintah pun perlu memastikan bahwa setiap guru benar-benar memahami perannya sebagai pendidik yang tidak hanya mengajar, tetapi juga menjadi teladan bagi anak didiknya.

Dr. Herman Hofi Law menekankan pentingnya reformasi dalam dunia pendidikan. “Jangan sampai dunia pendidikan kita terus dicoreng oleh perilaku oknum guru yang tidak bertanggung jawab. Pemerintah dan PGRI harus hadir sebagai pengawas yang aktif, bukan sekadar simbol,” tegasnya.

Jika tidak ada tindakan konkret, dunia pendidikan Indonesia akan terus mengalami degradasi moral yang pada akhirnya akan berdampak pada kualitas generasi penerus bangsa.

Herman juga minta,kasus oknum guru aniaya murid di Melawi harus ada  tindakan tegas terhadap pelaku  dilakukan oleh dinas pendidikan kabupaten Melawi walupun kedua belah pihak sudah berdamai dan mereka sodara tetapi prilaku oknum guru tersebut sudah jelas melanggar aturan serta ketentuan selaku pendidik tegas Dr Herman Hofi Munawar Pengamat kebijakan publik dan pakar hukum.

Sumber : Dr. Herman Hofi Munawar Law
Penulis : Jono Aktivis98

Segerombolan Oknum Guru Aniaya Siswa Didiknya Hingga Sebabkan Trauma

BOGOR.radarinformasi.com – Miris, penganiayaan siswa di lingkungan sekolah kembali terjadi, kali ini dialami oleh 3 siswa MTs kelas IX yang bersekolah di Yayasan Al-Nurani, ketiga siswa tersebut mendapat perlakuan tidak baik dari beberapa Oknum Guru yang kebetulan mengajar di hari tersebut, Kamis (24/08/23).

Sangat disayangkan dengan apa yang dilakukan oleh Oknum Guru yang mengajar di sekolah yang berbasis Islam tersebut, dimana seharusnya pihak sekolah mengajarkan kepada anak aklhak yang baik sehingga mampu mencetak generasi yang beraklhakul Qorimah untuk ke depannya.

Kejadian bermula ketika ketiga siswa ini bermain bola di dalam kelas dan di saat tidak ada guru di dalam ruangan. Spontan aksi mereka mendapat teguran keras dari beberapa guru, selain mendapat teguran dan makian mereka juga dikenakan sangsi dengan cara dipukul berkali-kali bahkan ada oknum yang mencukur rambut anak secara acak.

Awalnya Kami main bola di kelas, terus kami di hukum oleh beberapa oknum guru diantaranya Pak Ardian (ngajakin berantem), Pak Apri (teriak bentak-bentak), Pak Muklis (motong rambut sampe pitak), Pak Farhan (hanya melihat), PakAlpian (bentak-bentak).” ujar salahsatu Siswa yang dianiaya.

Sementara ketika radarinformasi.com menyambangi Yayasan Al-Nurani untuk konfirmasi terkait adanya tindakan kekerasan tersebut H. Sobur selaku Wakasek Kurikulum mengatakan bahwa aduan tersebut fiktif karena di sekolah tersebut tidak pernah ada guru yang melakukan tindakan seperti yang di adukan.

“Kami ini sekolah berbasis Islamic, jadi tidak mungkin ada guru yang melakukan tindakan kekerasan apa lagi secara fisik ataupun ucapan. Mungkin saja itu hanya aduan yang dibuat-buat oleh siswa yang manja”, ucapnya kepada Awak Media.

” Saya sebagai kesiswaan tidak pernah menegur siswa dengan kekerasan fisik seperti aduan tersebut. Kalaupun ada Siswa/siswi yang terlambat masuk sekolah saya hanya berikan hukuman joging 1 sampai 2 kali puteran saja, karena kita juga tidak mau memberikan hukuman yang memakan waktu belajarSiswa/siswi”, ucap Ardian selaku Kesiswaan.

Meskipun sudah di jelaskan bahwa ada semua bukti tindakan kekerasan tersebut pihak sekolah tetap mengelak dan mengatakan bahwa aduan tersebut hanya fiktif. Bahkan ketika Awak Media ingin berkomunikasi dengan kepala sekolah ataupun kepala yayasan, staff guru yang ada saat itu tetap bersikeras tidak mau menghubungi, karena merasa cukup dengan penjelasan yang telah mereka berikan.

“Cukup dengan kami saja tidak perlu melibatkan Kepala Sekolah ataupun Kepala Yayasan”, ujar H. Sobur.

Sementara itu Bambang selaku Humas mengucapakan banyak terimakasih atas informasi yang diberikan, Ia juga akan memanggil para Oknum guru yang telah melakukan penganiayaan tersebut untuk di selidiki kebenarannya.